Tuesday, 05 June 2018 09:46

Kesamaan Pandang Dalam Penanganan Radikalisme di Kampus

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Penangkapan tiga terduga teroris di kampus Universitas Negeri Riau (UNRI) pada Sabtu (2/6) menunjukkan bahwa kampus bukan suatu tempat yang bebas dari pemikiran ataupun tindakan radikalisme.  Lembaga pendidikan tinggi yang melahirkan intelektual-intelektual muda bangsa nampaknya semakin ‘tercemar’ dengan individu maupun kelompok radikal. Bahkan kampus yang boleh dikatakan jauh dari intervensi atau pengawasan polisi kini dimanfaatkan mahasiswa atau alumni universitas untuk  melancarkan gerakan terorisme. Mereka menganggap kampus sebagai tempat yang aman untuk menjalankan misi mereka.

Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Budi Gunawan di Kongres IV BEM di Semarang, Sabtu (28/4), menyatakan sekitar 39% mahasiswa perguruan tinggi telah terpapar paham radikal.

Menurut Budi Gunawan, dari hasil  survei diperoleh data 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan karena mengancam keberlangsungan NKRI.

Terduga teroris MNZ bersama dua rekannya yang ditangkap di kampus UNRI mengaku merakit bom di lingkungan kampus karena dianggap aman dan tidak terjangkau polisi. Selain itu,  alasan merakit bahan peledak di kampus lantaran mudah mendapatkan bahan-bahan peledak dari laboratorium. 

Terduga teroris MNZ diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD),  kelompok teror yang melakukan penyerangan di Markas Besar Polisi Daerah (Mapolda) Riau beberapa waktu lalu. MNZ mengaku pernah mendapat pesanan bom rakitan  dari pelaku penyerangan. Jaringan JAD diketuai oleh terdakwa kasus bom Thamrin Aman Abdurrahman. Aman juga dikabarkan sekaligus merupakan ketua ISIS Indonesia. JAD sendiri dibentuk sebagai wadah untuk mendukung khilafah Islamiyah. 

Dari pengembangan kasus bom Thamrin Densus 88 berhasil menangkap MNZ dan kawan-kawan dengan bom rakitan yang siap pakai.Semua itu menggambarkan bahwa  keberadaan dan kemampuan terduga teroris MNZ bersama teman-temannya tidak boleh dipandang remeh. 

Namun, langkah yang dilakukan aparat keamanan, Densus 88 dan jajaran Polda Riau yang memasuki kampus Universitas Negeri Riau dengan bersenjata lengkap menuai protes dari Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Pejabat  ini   menganggap kejadian itu sebagai  “perang dengan mahasiswa”.

Masyarakat umumnya berpendapat  tindakan polisi sudah benar. Karena yang mereka hadapi saat itu bukan demo mahasiwa atau kejahatan biasa, tetapi orang-orang yang dapat membahayakan jiwa orang lain.   

Perlu ada  kesamaan pandang dalam penangangan radikalisme atau terduga terorisme di lingkungan kampus. Agar terorisme yang belum lama ini kembali beraksi, dan menelan korban puluhan jiwa, dapat diberantas dari bumi Indonesia.

Read 29 times Last modified on Tuesday, 05 June 2018 19:02