warna warni

warna warni (129)

19
July

Dalam edisi Warna Warni kali ini saya sajikan informasi mengenai  Tomohon International Flower Festival ke-8. .

Tomohon, salah satu kota di provinsi Sulawesi Utara lokasinya sekitar 22 kilometer ke arah timur dari Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Kota ini berada di ketinggian kira-kira 700 hingga 800 meter diatas permukaan laut dan diapit oleh 2 gunung berapi aktif, yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu, sehingga Tomohon punya kondisi tanah yang subur dan cuaca yang relatif sejuk. Hal inilah yang menjadi faktor  pendukung masyarakat  Tomohon membudidayakan berbagai tanaman bunga. Karena produksi bunganya yang besar dengan kualitas baik, pemerintah kota Tomohon mencitrakan dirinya sebagai kota  bunga, sehingga samapi saat ini, Tomohon dikenal sebagai Kota Bunga.

Mengukuhkan diri sebagai kota Bunga, tiap tahunnya Tomohon menggelar festival bunga bertajuk Tomohon International Flower Festival (TIFF). TIFF 2018 digelar dalam upaya mempromosikan Tomohon yang semakin dikenal wisatawan sebagai pusat industri bunga terbesar di Indonesia, serta tujuan wisata lingkungan, ecotourism maupun agrotourism. Tahun ini, festival bunga ini akan digelar kembali pada 8 hingga 10 Agustus 2018 di Tomohon. Acaranya sudah diluncurkan tanggal 9 Juli kemarin oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Menteri Pariwisata  mengatakan penyelenggaraan event TIFF 2018 masuk dalam 100 Wonderful Events Indonesia 2018 dan memiliki kualitas berstandar nasional dengan benchmarking festival bunga internasional Pasadena, Amerika Serikat, yang sudah lama mendunia. Arief Yahya berharap, ke depan festival bunga ini akan semakin banyak menarik peserta dari mancanegara. Dilaporkan bahwa terjadi kenaikan wisatawan secara signifikan tiap tahunnya saat acara tersebut. Dari tahun 2016 hingga 2017, wisatawan mancanegara yang datang untuk TIFF dari 26.441 menjadi 39.000 orang. Untuk acara TIFF tahun ini ditargetkan kunjungan 90.000 wisatawan mancanegara (wisman) dan pergerakan 500.000 wisatawan nusantara (wisnus).

TIFF 2018 mengangkat tema ‘Beautiful Tomohon, Sing with Flowers', untuk menegaskan bahwa Tomohon sebagai kota bunga memiliki alam yang indah yang dikaruniai banyak gunung, danau, dan air terjun. Tahun ini kontingen karnaval dari negara lain yang sudah ikut serta sudah ada 19 negara. Terdiri dari 11 negara anggota Council of Asian Flower Exhibition (CAFÉ), ditambah 8 lainnya mulai Ceko, Nepal, Pakistan, Jepang, Kazakhstan, dan Georgia. Rombongan festival dibatasi 30 kendaraan sepanjang 10 kilometer, untuk menjaga kualitas agar tidak terlalu panjang. Tempat yang digunakan masih di Lapangan Kota Tomohon, eks Rindam dengan latar Gunung Lokon. Rangkaian acara TIFF 2018 meliputi Tournament of Flowers (Flower Parade) dan Flower Fashion Carnival yang akan berlangsung di Jalan Protokol Kota Tomohon pada 8 Agustus 2017. Selain itu akan digelar pula Pameran Tourism, Trade, Investment, and Floriculture Expo serta Pagelaran Seni dan Budaya Nusantara di Panggung Pameran Stadion Babe Palar Tomohon 7 hingga 12 Agustus 2018.

 

18
July

Penyakit kardiovaskular yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang menyebabkan kematian. Berdasarkan data WHO, 37 % kematian di Indonesia disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Penyakit ini terjadi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tekanan darah tinggi, kolestrol, diabetes dan juga pola hidup tidak sehat seperti merokok.

Jika Anda termasuk para penderita penyakit jantung, maka karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur ini menjadi sangat penting. Bahkan direkomendasikan untuk dipakai bagi para penderita penyakit jantung dimana pun berada. Inovasi itu berbentuk Gelang Monitoring Tingkat Kelelahan Tubuh, atau disingkat menjadi Gering

Tiga mahasiswa yang mengembangkan Gering adalah Elysa Nensy Irawan, Rivanul Luqman Pradana, dan Ulya Farahdina. Menurut Elysa, Gering merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ITS. Gering didesain menyerupai gelang selebar 5 sentimeter yang dipasang pada pergelangan tangan agar mudah digunakan oleh pengguna ketika beraktivitas.

Pada gelang ini terdapat tiga buah sensor yang digunakan. SHT11 untuk mendeteksi suhu tubuh, sensor oxymeterpulse untuk mendeteksi denyut nadi, dan sensor MAX30100 untuk mendeteksi kadar oksigen, serta LED (Light Emitting Diodes). Hasil pembacaan dari sensor-sensor tersebut, akan diolah menggunakan "Neural Network" yang terintegrasi dalam android untuk pengklasifikasian data menjadi normal, lelah, serta sangat lelah. Data yang terukur oleh sensor ditampilkan pada aplikasi android bernama GeringApp.

Karena serangan jantung bersifat mendadak, menurut Elysa selaku ketua tim dan juga mahasiswi Departemen Fisika ITS, maka penting untuk menambahkan GPS. GPS sendiri kependekan dari Global Positioning System, merupakan sistem navigasi berbasis satelit. Penambahan Sistem ini bertujuan agar kerabat dapat langsung mengetahui posisi penderita jika terdapat tanda-tanda serangan jantung.

Apabila pengguna berada dalam kondisi sangat lelah, maka GeringApp akan menampilkan Warning Notification dan mengirimkan pesan kepada nomor ponsel kerabat yang telah didaftarkan pada GeringApp. Warning Notification ini berisi data denyut nadi, suhu tubuh, kadar oksigen, dan lokasi pengguna.

Dengan adanya inovasi Gering ini, diharapkan dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan angka kesejahteraan masyarakat dengan cara menekan angka kematian akibat serangan jantung.

17
July

Warna Warni kali ini mengenai informasi mengenai Situs Informasi Makanan Halal Pertama di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun sayangnya, tidak serta merta dengan mudah menemukan tempat makan yang halal dan sudah tersertifikasi di berbagai daerah di Indonesia. Hal inilah yang membuat Aditia Ginantaka, Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) kemudian mengembangkan website yang memungkinkan semua orang terutama wisatawan muslim menemukan tempat makan yang sudah terjamin kehalalannya. Website makanan halal ini bernama halalfoodtrace.com. halalfoodtrace.com bisa diakses langsung melalui telepon genggam dengan mengetikkannya pada mesin pencari di internet.

halalfoodtrace.com dikembangkan sebagai salah satu inisiatif untuk menghadirkan solusi bagi wisatawan muslim saat berwisata dan mencari kuliner halal. Dengan menghadirkan informasi kuliner halal, diharapkan para traveller bisa mendapatkan ketenangan dan kepastian kehalalan kuliner yang disantap. Website ini merupakan hasil riset dari peneliti di Fakultas Ilmu Pangan Halal, program studi Teknologi Industri yang memenangkan Hibah penelitian dari Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di tahun 2017.

Halalfoodtrace.com memuat semua daftar kuliner mulai dari makanan, minuman hingga oleh-oleh khas daerah destinasi wisata di Indonesia. Saat mencari produk kuliner ataupun oleh-oleh, wisatawan cukup memasukkan kategori kuliner serta nama kota yang mereka kunjungi dalam mesin pencari pada website ini. Website kemudian akan menampilkan daftar kuliner lengkap dengan informasi lokasi. Melalui fitur “get direction” pengguna website dapat langsung mengetahui rute jalan untuk sampai ke lokasi dimana produk kuliner tersebut berada. Tempat makan dan minum serta oleh-oleh yang ditunjukkan oleh webstite sudah tersertifikasi halal lengkap dengan nomor Sertifikat Halal dari MUI. Selain itu, wesbsite ini juga menyediakan informasi lengkap untuk mencari cemilan dan tempat nongkrong yang asyik, kekinian dan juga terjamin halalnya. Pengguna cukup meng-klik Menu: Cemilan atau Nongkrong, semua informasi yang dibutuhkan, bisa dengan cepat ditampilkan.

15
July

Pada Warna Warni edisi kali ini akan mengajak Anda untuk mengetahui upacara ngumbay lawok di Lampung Barat. Masyarakat Indonesia yang tinggal di pesisir laut seperti di Lampung, memiliki adat dan tradisi sendiri. Salah satu upacara yang seringkali dilakukan oleh masyarakat Lampung yang tinggal di pesisir barat adalah upacara Ngumbay Lawok. Upacara ini adalah ungkapan syukur masyarakat pesisir atas hasil laut dan juga untuk memohon keselamatan kepada sang pencipta agar diberikan keselamatan saat melaut. Dalam ritual ini dikorbankan kepala kerbau sebagai simbol pengorbanan dan ungkapan terimakasih kepada laut yang telah memberikan hasil lautnya kepada nelayan. Kepala Dinas Peternakan Kelautan dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Pesisir Barat, Syaifullah, mengatakan acara itu memang merupakan tradisi setiap tahun yang dilakukan oleh nelayan setempat. Syaifullah menambahkan bahwa manfaat acara itu sendiri adalah memperkenalkan berbagai objek wisata yang ada di Kabupaten Pesisir Barat kepada masyarakat luar. Kegiatan itu sendiri menurut Syaifullah, akan dilaksanakan setiap tahun dengan pusat kegiatan berpindah-pindah di disepanjang pantai dan perairan laut pesisir barat. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan agar masyarakat lebih mengenal dan mengetahui seluruh objek wisata pantai yang ada di kabupaten tersebut.

Salah satu wilayah di Lampung adalah Tenggamus. Pada tahun 2010 lalu wilayah ini sudah menjadi tuan rumah diadakannya upacara Ngumbay Lawok tersebut. Bupati Tanggamus, Bambang Kurniawan menyampaikan bahwa ruwatan atau Ngumbay lawok itu salah satu upacara adat leluhur yang lazim dilakukan masyarakat di pulau Jawa hingga Sumatera, yang memiliki tujuan untuk membebaskan manusia atau lingkungan dari ancaman bahaya. Upacara adat tersebut merupakan ajaran budaya Jawa kuno yang sangat sakral dan sekarang diadaptasi dan disesuaikan dengan ajaran agama.

Bambang mengatakan makna ruwatan jangan disalah artikan, karena ruwatan itu maknanya adalah mengembalikan pada keadaan sebelumnya, dan maksudnya keadaan sekarang yang kurang baik dikembalikan kepada keadaan semula awal penciptaan yang baik dari Tuhan. Ruwatan (Ngumbay lawok) juga membebaskan penduduk desa dari ancaman bencana yang kemungkinan akan terjadi. Ruwatan seperti itu setiap tahun dilakukan oleh sebagian warga Tanggamus keturunan dari Jawa sebagai tolak bala atau buang sial. Baiklah pendengar, demikian informasi mengenai upacara Ngumbay Lawok di Lampung Barat.

15
July

Edisi kali ini mengetengahkan topik mengenai Mahasiswa ITS Ciptakan Baterai Gel dari Sari Tomat. Penggunaan baterai sebagai salah satu sumber energi tidak dapat dipisahkan dari keseharian masyarakat. Berbagai fasilitas pendukung digital dan elektronik menggunakan baterai seperti handphone, remote kontrol, laptop, dan lain-lain.Pengarah tim inovasi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Randy Yusuf Kurniawan mengatakan dalam komposisinya, baterai memiliki elektrolit (zat kimia) yang berbahaya bagi lingkungan, seperti lithium dan timbal. Bila baterai bekas dibuang sembarangan atau tidak didaur ulang, maka kandungan logam berat dan zat-zat berbahaya lain yang ada di baterai dapat mencemari air dan tanah, yang pada akhirnya dapat membahayakan tubuh manusia.

Karena itulah sekelompok mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yaitu Febrilia Agar Pramesti, Abduh Muharram Chairacita, dan Putri Augista Nur Azizah, di dibimbing oleh Ir Endang Purwanti Setya N MT, menciptakan baterai gel dengan memanfaatkan sari buah tomat sebagai pengganti zat kimia berbahaya pada baterai.

Buah tomat sebagai salah satu sumber vitamin C yang memiliki rasa asam sangat mudah dijumpai di wilayah tropis seperti Indonesia. Buah ini juga dijual dengan harga yang relatif murah. Menurut Randy Yusuf untuk dijadikan sebagai pengganti bahan kimia pada baterai, buah tomat terlebih dahulu diukur keasamannya melalui kadar vitamin C dan menghasilkan 10-40 miligram vitamin C per 100 gram tomat. Tomat yang menjadi bahan uji adalah tomat mentah sampai masak dengan mengambil sari tomat dengan cara dijus, kemudian diuji. Menurut Randy, asam sebagai sumber proton, ketika bereaksi dengan elektroda menghasilkan elektron yang mengalir ke sirkuit luar sehingga menimbulkan aliran listrik. Sari tomat yang berbentuk cairan ini menghasilkan tegangan listrik yang kecil. Karena itu sebelum dirangkai menjadi baterai, sari tomat ditambahkan biopolimer berupa agarose untuk menjadi elektrolit berbentuk gel. Penambahan agarose mampu meningkatkan densitas atau kerapatan elektrolit. Rapatnya elektrolit membuat nilai tegangan listrik menjadi tinggi.

Sementara itu, ketua tim Febrilia Agar Pramesti mengatakan kemungkinan jika dilakukan scale up atau pembesaran skala volume, tegangan listrik pada baterai gel ini akan lebih besar. Baterai gel dari buah tomat ini juga dinilai tim mampu menghasilkan tegangan dan arus yang sangat stabil. Dikatakan timnya menjalankan baterai selama 30 menit, tegangannya menjadi 0,985 volt, hanya selisih 0,015 volt saja, selisih ini sangat sulit diperoleh pada penelitian baterai pada umumnya. Melalui inovasi ini, tim berharap baterai gel dari buah tomat ini bisa digunakan oleh masyarakat sebagai baterai yang ramah lingkungan. Tim ini akan terus menyempurnakan penemuan ini. Mereka juga berharap dapat lolos pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-31 yang akan digelar pada Agustus mendatang di Yogyakarta.

13
July




Warna-Warni. sebagai salah satu tujuan wisata teramai sepanjang tahun, Jogja memberikan banyak pilihan wisata bagi Anda. Dari gunung hingga pantainya, selalu ada tempat yang bisa Anda kunjungi untuk menambah pengalaman perjalanan Anda. Kunjungan para wisatawan ini, selain berdampak pada peningkatan pendapatan daerah juga berdampak pada menggunungnya sampah. Terutama sampah plastik. 
Guna mengurangi jumlah sampah plastik yang kian menumpuk di kota wisata ini, Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta akan menyiapkan gerakan 1.000 tumbler sebagai salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup yang digelar akhir Juli 2018 mendatang di Embung Langensari, Kota Yogyakarta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana menjelaskan, secara teori, jumlah sampah plastik yang dihasilkan Kota Yogyakarta akan terus meningkat. Sehingga, diperlukan berbagai upaya agar sampah plastik yang dihasilkan bisa diminimalisir. Salah satunya dengan gerakan dari masyarakat.
Suyana menjelaskan, rata-rata volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Piyungan selama Juni tercatat sebanyak 257 ton per hari, dengan 20 persen di antaranya adalah sampah plastik. Sampah plastik tersebut, banyak berasal dari botol plastik air minum kemasan. Karena sebab inilah, pihak DLH Kota Yogyakarta menggelorakan gerakan pengurangan botol plastik air minum kemasan dengan penggunaan ‘tumbler’ atau botol minum yang dibawa sendiri dari rumah dan bisa diisi ulang.
Menurut Suyana, masih banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran terkait dengan bahaya sampah plastik. Mereka lebih memilih membeli minuman kemasan dalam botol karena dinilai lebih praktis dibandingkan dengan  harus membawa botol minum dari rumah.
Selain mengurangi konsumsi air minum kemasan botol, DLH juga melakukan pembersihan tiga sungai besar, yaitu Code, Gajahwong, dan Winongo, dari sampah plastik yang ditangani petugas ulu-ulu sungai. Petugas ulu-ulu sungai adalah para petugas yang memiliki komitmen untuk menjaga kebersihan sungai. Para petugas ini tidak hanya mengingatkan warga untuk tidak membuang sampah ke sungai, tetapi juga membersihkan sungai.

11
July

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan fauna yang melimpah. Namun sayangnya fauna endemik Indonesia saat ini sudah sangat sedikit, bahkan sebagian fauna sudah ada yang punah. Selain itu, banyak anak Indonesia tidak mengenal fauna asli dan endemik Indonesia, bahkan sekedar mengetahui pun tidak.

Atas dasar inilah, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) berinovasi menciptakan permainan yang terinspirasi dari permainan Jumanji, yang diberi nama "Yokawan". Yokawan merupakan media permainan yang berisi tentang macam-macam fauna endemik Indonesia. Dengan metode bermain sambil belajar, Yokawan berusaha mengenalkan fauna endemik Indonesia mulai dari nama lokal, habitat asal, dan sebaran di Indonesia.Kelima mahasiswa tersebut yakni Hilma Rosmy Naziah, Huky Arvi Loany, Fanisya Febrianti Hernada, Sukma Dewi Heidy Santoso, dan Sri Wulan, yang berasal dari dua jurusan berbeda yakni Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat dan Ilmu Keluarga.Melalui permainan Yokawan, kelima mahasiswa IPB ini berhasil menciptakan nuansa baru belajar mengenal fauna endemik Indonesia dengan cara menyelesaikan misi di dalam permainan. Misi tersebut berupa mencapai titik tengah Yokawan secara bersamaan. Pemain yang terdiri dari empat orang, harus bekerja sama dan saling membantu memecahkan tantangan yang disediakan di papan permainan. Jika pemain tidak dapat memecahkan tantangan, maka akan mendapatkan sanksi berupa berkurang nyawa dan dilewati satu kali putaran permainan berikutnya.Cara bermain Yokawan seperti bermain permainan monopoli. Para pemain menggunakan karakter zoologist, masing-masing pemain memiliki 4 kartu pengetahuan. Kemudian pemain melempar dadu, angka dadu menunjukan jumlah langkah yang harus mereka ambil. Setiap berhenti mengambil kartu yang berisi tantangan pertanyaan. Jika tidak bisa menyelesaikannya, pemain dapat dibantu oleh pemain lainnya dengan konsekuensi harus memberikan 1 dari 3 kesempatan yang mereka miliki. Tantangan dan pertanyaan termasuk dalam komponen permainan dalam bentuk kartu. Tantangan Yokawan, misalnya, membuat puisi tentang Elang Jawa. Untuk pertanyaan, seputar hewan endemik di Indonesia.Salah satu kreator Yokawan, Huky Arvi Loany menjelaskan, permainan ini sudah diaplikasikan di beberapa tempat, di antaranya dimainkan anak-anak di sekitar rumah dari lima mahasiswi tersebut. Juga, di SD Negeri Cihideung Hilir 04, TPA Desa Cibanteng Bogor. Penyampaian Yokawan di sekolah SD Negeri Cihideung Hilir 04 Bogor, Jawa Barat, dilakukan dalam beberapa tahap.

Tahap pertama adalah Aloha (Ayo Lihat Hewan). Aloha dilakukan dengan menonton bersama-sama video hewan agar skema pemikiran anak terfokus pada hewan. Tahap kedua, Carita (Cari Tahu Ya) yakni menceritakan tentang hewan-hewan endemik di Indonesia beserta hal-hal menarik dari hewan endemik tersebut. Misalnya, perbedaan antara Badak Sumatera dengan Badak Jawa. Tahap ketiga adalah Kawan (Kusuka Hewan).Tahap ini dilakukan dengan bermain board game Yokawan. Tahap keempat adalah Everlasting, yang merupakan evaluasi dari permainan ini.Menurut Huky, hingga saat ini, mereka sudah memproduksi 7 set permainan Yokawan dan tidak diperjualbelikan. Untuk penyebarannya, masih menjajaki sejumlah pihak, di antaranya Kementerian Lingkungan Hidup karena ada rencana menempatkan Yokawan di taman nasional.

10
July

Warna Warni kali ini saya sajikan informasi mengenai  Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC)  digelar di kota Batu, Malang.

Kejuaraan dunia paralayang bertajuk Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) akan dihelat di Kota Batu. Kejuaraan skala internasional ini bakal berlangsung pada 13 hingga 15 Juli 2018 mendatang di Gunung Banyak, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, Jawa Timur. PGAWC merupakan kejuaraan berseri. Terdapat enam seri perlombaan dengan beberapa kategori. Kota Batu menjadi tuan rumah untuk seri ketiga tersebut. Dipilihnya Batu menjadi tuan rumah dalam kegiatan kelas dunia tersebut merupakan salah satu kebangaan tersendiri bagi Indonesia, khususnya Jawa Timur dan kota Batu. Ini berarti daerah di Indonesia masih dipercaya  untuk menjadi tempat gelaran agenda internasional.

Selain itu, dipilihnya kota Batu menjadi tuan rumah ajang perlombaan paralayang dunia karena Batu memilih akses yang mudah. Panitia PGAWC juga melihat angin di daerah pegunungan di perbatasan Kota Batu dan Kabupaten Malang itu umumnya bagus. Sarana dan prasana di kota Batu juga cukup baik dibandingkan yang lain. Dengan digelarnya ajang perlombaan dunia ini, pemerintah Kota Batu berharap ajang ini mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kota Batu. Kegiatan ini juga dimanfaatkan oleh pemerintah kota untuk ajang promosi semua potensi yang ada di kota Batu.

kejuaran dunia olahraga paralayang PGAWC memakai format seperti balapan Formula 1. Kejuaraan ini diselenggarakan berpindah dari satu negara ke negara lain. Tahun 2018 ini terdapat enam seri kejuaraan hingga pertengahan Desember nanti. Kejuaraan dilaksanakan di Turki, Kazakhstan, Indonesia, Kanada, Nepal, dan Albania. Seri Ketiga di gelar di Indonesia, tepatnya di kota Batu. Hingga penyelenggaraan Seri Kedua, pencapaian tertinggi atlet Pelatnas (pemusatan latihan nasional) Tim Paralayang Indonesia diraih oleh Ike Ayu Wulandari di peringkat pertama Kelas Putri, disusul Eka Nesti Wulansari sebagai juara kedua. Kejuaraan Dunia Para Gliding Accuracy World Cup – PGAWC 2018 ini akan menjadi ujian terakhir bagi para atlet paralayang Indonesia sebelum tampil dalam Asian Games 2018 pada Agustus mendatang. Diperkirakan, para atlet paralayang negara lain yang juga akan bertanding di Asian Games 2018 akan turut bertanding dalam PGAWC 2018.

 

 

09
July

Warna Warni edisi kali ini akan mengajak Anda untuk mengetahui nasib suku sakai yang tinggal di pedalaman hutan Riau, Sumatera. Indonesia yang terdiri akan pulau-pulau memang merupakan satu tempat strategis untuk beberapa suku di wilayah pedalaman berkembang dengan baik. Namun masih ada beberapa suku yang masih tertinggal atau terkesan meninggalkan era modernisasi yang terjadi di Indonesia. Nenek moyang Suku Sakai diyakini berasal dari Pagaruyung, sebuah kerajaan Melayu yang pernah ada di Sumatera Barat. Dahulu, Suku Sakai memiliki pola kehidupan yang masih nomaden, berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Pola kehidupan yang masih nomaden ini meninggalkan kekayaan budaya yang menarik. Hal tersebut terlihat dari benda peninggalan Suku Sakai yang dahulu digunakan untuk keperluan hidup mereka di pedalaman.

Benda-benda ini terbuat dari bahan baku yang sumbernya seratus persen dari alam, dan memiliki fungsi yang masih sederhana dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kebudayaan Suku Sakai yang bercorak agraris juga ditandai dengan alat-alat yang berfungsi sebagai alat pertanian seperti gegalung galo. Alat yang terbuat dari bambu dan batang pepohonan ini berfungsi sebagai alat penjepit ubi manggalo untuk diambil sari patinya. Suku Sakai juga memproduksi pakaian yang bahannya seratus persen terbuat dari alam. Pakaian orang-orang suku ini dahulu ketika masih hidup dalam sistem nomaden terbuat dari kulit kayu.

Pakaian inilah yang digunakan Suku Sakai untuk bertahan hidup selama berpindah-pindah tempat. Kebanyakan orang Sakai menganut kepercayaan animisme dan meyakini adanya ‘hantu’ atau makhluk gaib. Seiring perkembangan zaman, sebagian suku Sakai mulai memeluk agama lain seperti Islam dan Kristen, hanya saja kebiasaan mereka terhadap hal-hal yang berbau magis kadang masih mereka lakukan. Suku Sakai selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah di hutan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, alam asri tempat mereka berlindung mulai punah. Kawasan yang tadinya hutan, berkembang menjadi daerah industri perminyakan, usaha kehutanan, perkebunan karet dan kelapa sawit, dan sentra ekonomi.

Komposisi masyarakatnya pun menjadi lebih heterogen dengan pendatang baru dan pencari kerja dari berbagai kelompok masyarakat yang ada di Indonesia (Jawa, Minang, Batak, dsb). Akibatnya, masyarakat Sakai pun mulai kehilangan sumber penghidupan, sementara usaha atau kerja di bidang lain belum biasa mereka jalani. Ciri khas suku Sakai yang hidup di sungai dan mencari ikan sebagai penghidupan memang terkesan primitive. Keadaan hutan yang sudah mulai terkikis lambat laun memaksa suku sakai pedalaman pindah ke wilayah yang lebih baik. Saat ini sebagian suku sakai tinggal di wilayah perkampungan. Inilah yang membuat suku ini terbagi menjadi dua, sakai pedalaman dan sakai luar. Hal ini pula yang membuat keberadaan suku sakai punah secara perlahan tapi pasti. Suku sakai merupakan salah satu kekayaan budaya yang ada di Indonesia, sudah seharusnya pemerintah pusat mulai memperhatikan dan mempertahankan keberadaan mereka.//

                                                                                                                            

08
July

Edisi kali ini mengetengahkan topik mengenai Headset Untuk Mengurangi Nyeri Rahang.Headset biasanya digunakan untuk mendengarkan suara atau musik. Alat ini juga digunakan untuk aktifitas lain seperti sebagai salah satu alat bantu dengar di laboratorium bahasa.Namun kali ini, sejumlah mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta membuat sebuah headset sebagai alat bantu kesehatan. Amri Siddiq Pangestu dari Fakultas Teknik, Eltrin Khotimah Maharti dan Nurzahra Sekar Ningrum dari Fakultas Kedokteran Gigi. Perangkat ini dikembangkan untuk membantu memberikan relaksasi pada otot sekitar rahang pasien yang melakukan perawatan gigi. Headset ini dapat mengurangi rasa nyeri di rahang. Perawatan gigi memang kerap memunculkan rasa tidak nyaman seperti pegal dan kaku di area rahang akibat membuka mulut lebar. Bahkan, dalam beberapa kasus, pasien masih merasa pegal dalam jangka waktu lama. Hal ini berpotensi memunculkan gangguan sistem pengunyahan atau Temporo Mandibular Disorder (TMD). Namun, masalah itu kini dapat teratasi dengan Gusta atau Gadjah Mada Ultrasound Therapy.Menurut Amri, Gusta merupakan inovasi alat kesehatan yang mampu memancarkan gelombang ultrasonik berfrekuensi tepat, sehingga bisa memberikan rasa nyaman dan merelaksasi otot sekitar rahang. Dia menekankan, gelombang ultrasonik sebenarnya telah lama digunakan di dunia medis. Gelombang ini diketahui mampu menyembuhkan rasa sakit dan kaku pada otot, dengan menghasilkan efek mekanis dan termal. Dari situ, efek-efek yang ada mampu meningkatkan temperatur jaringan di sekitarnya, serta melancarkan aliran darah.

Alat ini tersusun dari tujuh komponen utama yaitu mikrokontroler, generator gelombang ultrasonik, pengatur input-output, dan headphone. Selain itu, terdapat sensor suhu, LCD dan tranduscer ultrasound. Menurut Amri, cara kerja alat ini adalah mengubah sinyal listrik yang ada menjadi gelombang ultrasonik yang dapat diatur pada perangkat ini. Amri menjelaskan, pasien memakai headset menyesuaikan dengan sendi rahang, setelah itu tombol power dihidupkan untuk menyalakan alat. Frekuensi dapat diatur sesuai kenyamanan pasien.

Sementara itu Nurzahra menambahkan, sebelum mengeluarkan frekuensi, alat ini akan diberikan gel untuk meminimalisir kontak kulit yang membuat tidak nyaman dan memaksimalkan efek pancaran gelombang ultrasonik. Penggunaan Gusta tidak hanya memberikan rasa nyaman bagi pasien, namun alat ini dinilai dapat pula memudahkan dokter saat melakukan perawatan gigi dan mulut, karena dilengkapi LCD yang menampilkan suhu dan frekuensi Gusta. Jika diproduksi secara massal, alat ini diperkirakan dijual seharga 2,5 juta rupiah. Penemuan ini lahir dari Progam Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) UGM 2018.

Page 1 of 10