Ulasan Berita

Ulasan Berita (4)

26
June

VOI NEWS Menara Eiffel pada Kamis kembali dibuka bagi pengunjung setelah wabah virus corona memaksa ikon Paris tersebut ditutup dalam kurun waktu yang paling lama sejak Perang Dunia II. Protokol kebersihan dan keamanan diberlakukan menjelang dibukanya kembali menara tersebut. Pengunjung dapat mengakses menara setinggi 324 meter hanya melalui tangga sampai awal Juli, dengan pelarangan penggunaan elevator untuk sementara waktu atas pertimbangan keselamatan.

Selain itu, pengunjung tidak diizinkan untuk naik lebih tinggi dari lantai dua menara, dan mereka diharuskan menggunakan masker. Pengelola mengatakan pihaknya berharap dapat beroperasi penuh seperti sedia kala pada musim panas mendatang. (antara)

18
June

Berbagai upaya dilakukan pemerintah Indonesia agar kegiatan ekonomi terus menggeliat. Antara lain dengan menggiatkan kerjasama multilateral di bidang ekonomi. Beberapa kesempatan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi tetap ada,  walau dunia masih belum berakhir menghadapi wabah corona.

Baru-baru ini Indonesia diberitakan  kembali mengevaluasi keberadaan dan peranannya  dalam berbagai forum kerjasama ekonomi. Di antaranya keanggotaan Indonesia dan perannya bersama   negara anggota Archipelagic and Island State (AIS).

Sejauh ini Indonesia melihat pentingnya untuk memanfaatkan forum Negara Kepulauan dan Pulau itu, untuk memperkuat kerjasama dan menyinergikan instrumen ekonomi yang ada. Terutama terkait upaya-upaya untuk  menghadapi kemunduran ekonomi dunia  saat dunia masih berjuang mengatasi pandemi corona.

Pemerintah Indonesia ikut berperan aktif dalam Peluncuran Program dan Talk Show AIS, tentang “Membina Kolaborasi untuk Ekonomi Pulau Tangguh”. Forum ini dihadiri oleh  perwakilan dari seluruh jaringan negara kepulauan dan pulau di dunia,  pada 10 Juni 2020.

Indonesia  melihat masih adanya  ancaman luas dan jangka panjang yang ditimbulkan oleh penyebaran virus corona. Kondisi ini menuntut komunitas internasional untuk bersama-sama menangani pandemi dan dampak ekonomi yang ditimbulkannya.

Seperti yang dikatakan Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Purbaya Yudhi Sadewa dalam peluncuran program dan talkshow AIS, Rabu (10/06). Ia menyatakan pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan UNDP dan Sekretariat Forum AIS untuk mendukung kolaborasi antara negara kepulauan dan pulau di seluruh dunia.

Apa yang dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dalam forum AIS sejalan dengan himbauan Presiden Joko Widodo. Presiden  meminta bangsa Indonesia mencermati pertumbuhan ekonomi dunia saat ini yang terkoreksi amat tajam. Presiden pada Senin, 15 Juni mengingatkan pentingnya terus  berjuang agar tidak masuk ke jurang resesi ekonomi.

Menurut Presiden, semua negara terus berjuang untuk menyelamatkan diri dari tekanan ekonomi yang dahysat.

Saat ini permintaan  dan  pasokan masih terganggu dengan  produksi yang juga masih bermasalah. Semua ini membuat pertumbuhan ekonomi dunia terkoreksi amat tajam Presiden mengatakan situasi tersebut dihadapi semua negara termasuk Indonesia.  

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan  ekonomi  Indonesia pada kuartal I/2020 tumbuh melambat sebesar 2,97 persen (year on year). Secara kuartalan atau dibandingkan dengan kuartal IV/2019, pertumbuhan ekonomi  Indonesia tercatat minus 2,41 persen.

Meskipun demikian tidak semua data ekonomi menunjukan penurunan. Di lain pihak  Indonesia masih mencatatkan neraca perdagangan yang surplus.

Indonesia pada periode Januari sampai Mei mengalami surplus 4,31 miliar dolar Amerika. Sementara nilai ekspor mencapai 64,46 miliar dolar Amerika, nilai impornya sebesar 60,15 miliar dolar Amerika.  Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (15/6) melaporkan posisi surplus lima bulan pertama tahun ini jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Hal ini menunjukkan masih ada dasar untuk tetap optimistis untuk  ekonomi Indonesia kembali membaik, antara lain lewat perdagangan dan investasi yang masih menjanjikan. Diharapkan faktor ini akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali membaik. (VOI/TGH)  

30
April

Semakin banyaknya  jumlah penderita yang terpapar  virus corona mendorong wilayah tertentu melakukan lockdown. Setelah kebijakan ini diterapkan  rata-rata selama dua bulan, sejumlah negara mulai mengumumkan rencana membuka isolasi wilayah (lockdown)  mereka. Bekegiatan ekonomi   bisa dimulai kembali sementara hanya  untuk beberapa jenis bisnis tertentu. Selain itu, diharapkan pembatasan sosial, gerak dan aktifitas (physical distancing) masih perlu diterapkan.

Dilaporkan yang akan membuka wilayah  mereka, antara lain beberapa negara anggota Uni Eropa, dan sebagian  wilayah Amerika Serikat. Di Asia, selain  Tiongkok, Iran juga diberitakan  akan membuka  isolasi  wilayah. Penerapan pembukaan isolasi wilayah akan dilakukan bertahap.

Untuk tahap awal, pembukaan hanya untuk sejumlah kegiatan bisnis secara terbatas.  Seperti yang diumumkan oleh Italia, Spanyol, Jerman dan Prancis. Pada umumnya, pembukaan isolasi di bebrapa negara ini akan dilakukan awal bulan Mei. Selanjutnya  sejumlah sektor usaha diharapkan segera beraktifitas. Hal ini berkaitan dengan wabah corona yang tidak saja berdampak pada kondisi kesehatan, tetapi juga kondisi ekonomi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump  sudah memberikan panduan kepada para gubernur terkait rencana pembukaan kembali aktifitas ekonomi Amerika Serikat dalam waktu dekat. Meski sejauh ini hanya beberapa negara bagian yang menyatakan siap menerapkan rencana tersebut.

Tetapi recana pembukaan kembali wilayah ini telah memunculkan  kontroversi dan reaksi yang berbeda. Terutama terkait  pertimbangan keuntungan dan kerugian jika isolasi mulai dibuka dalam waktu dekat ini.Pihak yang berkeberatan mengemukakan alasan utama mereka, yaitu terlalu berisiko  jika isolasi dibuka terlalu dini. Kembalinya aktvitas warga dikhawatirkan  akan menambah jumlah penderita virus corona.

Beberapa pengamat ekonomi dan pemerhati masalah kesehatan tentunya punya pandangan berbeda. Pengamat ekonomi berpandangan jika isolasi wilayah diterapkan terlalu lama, maka risiko memburuknya kondisi ekonomi akan lebih besar. Sebaliknya, pemerhati dan praktisi di bidang kesehatan menilai saat ini belum tepat untuk mengakhiri kebijakan isolasi dan memulai kegiatan usaha untuk sektor swasta.

Sementara, di sisi pemerintah,  alasan utama isolasi perlu segera dibuka adalah untuk menghindari kerugian lebih lanjut akibat  pelemahan ekonomi.

Kebijakan isolasi wilayah praktis telah membuat  ekonomi menjadi stagnan.  Sedangkan pemulihan ekonomi setelah lockdown dicabut juga akan memakan waktu lama.  Semua kondisi ini tidak terhindarkan akan membuat pertumbuhan  ekonomi akan rendah  atau bahkan akan minus (negative  growth).

Sedangkan penyebaran virus corona baru ini sendiri  belum bisa dikatakan telah berakhir. Sejumlah negara masih melaporkan penambahan jumlah penderita. Berdasarkan data worldmeters.info total  jumlah kasus di dunia per 29 April, penderita yang dirawat ada 3.163.377, dan jumlah kematian 219.348.

Di lain sisi, biaya penanggulangan wabah corona meningkat dan dampaknya untuk sektor ekonomi juga besar. Hal ini mendorong sejumlah negara berencana menambah dana dalam paket stimulus ekonomi mereka.

Dalam laporan World Economic Outlook memperkirakan, pada April ini ekonomi global akan membaik pada tahun depan dan tumbuh 5,8 %. Namun angka ini belum menunjukkan pemulihan sepenuhnya. Bahkan pada 2021, diprediksi tingkat aktivitas ekonomi berada relatif cukup rendah  di bawah proyeksi sebelum pandemi ini.

Sejauh ini belum ada yang bisa memastikan  kapan wabah corona akan berakhir. Berdasarkan data-data yang ada  total kasus positif virus corona masih bertambah.

Data penambahan jumlah penderita ini diharapkan  masih jadi acuan  di bidang kesehatan dan untuk pemulihan sektor ekonomi. Pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada periode pandemi corona berakhir.(VOI/TGH) 

01
May
 
VOI ULASAN Selagi wabah corona masih meluas, dunia diingatkan untuk menjaga ketersedian pangan di negara masing-masing. Demikian pula, adanya  kebutuhan mendesak untuk  menggalang kebersamaan di bidang ketahanan pangan. Khususnya untuk wilayah Asia Tenggara sebagai penghasil utama produk pangan terutama beras.    
 
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) meminta dunia untuk menjaga ketahanan pangan. Terutama semenjak isolasi wilayah telah  banyak diterapkan sejumlah negara. Saat wabah corona masih melanda,  harga pangan cenderung melonjak di tengah permintaan komoditi pangan makin meningkat.
 
FAO mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 ini bisa menyebabkan krisis pangan dunia.
 
Pilihan penguncian wilayah (lockdown) sejauh  memaksa sejumlah negara  membatasi atau bahkan menutup pasar ekspor komoditi pangan tertentu. Hal ini bisa mengganggu pasokan pangan global.
 
Sejumlah negara memastikan agar stok dalam negerinya tercukupi terlebih dahulu. Sejauh ini  selain gandum, komoditas utama pangan global adalah beras, kedelai, jagung dan tanaman hortikultura.
 
Negara penghasil  gandum terbesar di dunia antara lain  Rusia, Kazakhstan, dan Ukraina. Ketiga negara  ini dilaporkan  telah   mengumumkan pembatasan ekspor biji gandum.
Beberapa negara utama  penghasil beras  di Asia Tenggara juga berusaha mengamankan pasokan dalam negerinya.
 
Beberapa negara dikenal penghasil beras di  Asia Tenggara. Kawasan yang juga diakui  sebagai  lumbung beras. Antara lain  penghasil beras utama di dunia adalah Vietnam, Thailand dan Indonesia.
 
Peringatan FAO telah ditanggapi sejumlah negara termasuk negara negara dalam lingkup ASEAN. Peryataan FAO juga sejalan dengan sikap ASEAN secara kolektif.
Sikap ASEAN terkait upaya kawasan ini dalam menghadapi masalah keamanan persedian  pangan dan  kecukupan nutrisi.
 
Seperti yang dinyatakan dalam siaran pers Sekretariat ASEAN pada 16 April mengenai pernyataan bersama Menteri  Pertanian dan Kehutanan ASEAN. Terutama mengenai pentingnya ketahanan pangan ASEAN. Khususnya di saat dunia termasuk kawasan ini masih menghadapi wabah corona.
 
Dalam kondisi kesehatan dan ekonomi yang sulit ini, ASEAN menekankan pentingnya terus memastikan kestabilan pasokan pangan. Demikian pula,  kemudahan akses warga terhadap ketersedian pangan. Terutama ketersedian pangan di seluruh pasar dalam lingkup kawasan ASEAN.
 
Penyataan ini juga bagian dari respons ASEAN terhadap himbaun FAO. Himbauan  agar semua negara memastikan kelancaran logistik. Khususnya untuk pasokan pangan saat pandemi corona masih melanda dunia.  Ada kemugkinan terjadi kelangkaan pangan  jika tidak diantisipasi.
 
Untuk itu, perlunya meningkatkan kerjasama di sektor  pertanian dan kehutanan  antar negara ASEAN.
 
Perlunya meningkatkan akses warga terhadap  pangan yang semakin sulit.  Selain menanggulangi wabah corona ini, ASEAN  mengingatkan   pentingya kebersamaan  juga dalam menaggulangi masalah ekonomi. Antara lain  memastikan kelancaran pasokan pangan dan komoditas  penting  lainnya di kawasan.
 
Terkait ketersedian pangan di Indonesia,  Kementrian Pertanian menyatakan ketersedian pangan cukup.  Berdasarkan data Kementerian Pertanian, perkiraan ketersediaan pangan strategis nasional cukup untuk Maret hingga Agustus 2020. Terutama untuk  untuk beras tersedia 25,6 juta ton dari kebutuhan 15 juta ton.
 
Presiden Indonesia Joko Widodo mengungkapkan produksi beras di puncak panen raya akan mencapai 5,62 juta ton. Panen raya berlangsung sekitar Maret hingga Mei. Dengan produksi sebanyak itu dipastikan pasokan aman.
 
Meskipun demikian,Presiden mengingatkan kemungkinan terjadi kemarau panjang di tahun ini.  Tetap harus diwaspadai, terutama yang berkaitan dengan ketersediaan beras nasional. Seperti yang dikemukakan  Presiden dalam rapat terbatas dalam siaran di saluran YouTube Setpres, Selasa (28/4/2020).
 
Terkait ketersedian pangan, FAO juga mengimbau masyarakat membeli makanan dari usaha kecil setempat. Hal ini terutama untuk menghargai petani, nelayan dan peternak yang memproduksi pangan di tengah pandemi corona .
 
Seperti yang disampaikan Perwakilan FAO di Indonesia Stephen Rudgard,  dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, 30 April. Ia  mengatakan, sudah saatnya bagi semua komponen negara untuk memperhatikan satu sama lain dan menghargai mereka yang berada di garis depan dalam pandemi ini. Terutama memastikan petani dan nelayan juga mempunyai ketersedain  pangan yang cukup di masa sulit ini. (VOI/TGH)