mazpri

mazpri

30
January

17
January

VOINEWS - Tim peneliti China baru-baru ini mengembangkan metode berefisiensi tinggi untuk menggabungkan produksi pati artifisial dan protein mikroba dari batang jagung.

Para peneliti dari Institut Penelitian Bioteknologi, di bawah Akademi Ilmu Pertanian China, dan sejumlah lembaga lainnya yang berbasis di China menggunakan sistem molekuler multienzim dan ragi roti untuk mengubah selulosa pada batang jagung menjadi pati artifisial, serta menghasilkan protein mikroba melalui fermentasi di bawah kondisi aerobik.

Metode tersebut memangkas biaya produksi pati artifisial dan menghadirkan cara baru untuk memproduksi makanan. 

Pertumbuhan populasi dan perubahan iklim memunculkan tantangan besar bagi ketahanan pangan. Konversi efisien limbah pertanian menjadi makanan artifisial merupakan cara penting untuk meredam krisis pangan dan mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan.

Seluruh proses produksi hanya memerlukan investasi kecil dalam hal peralatan, tidak memerlukan input koenzim atau energi, dan tidak menyebabkan hilangnya gula. Menurut penelitian itu, produksi tersebut juga menawarkan peluang untuk memproduksi pati artifisial dan protein mikroba dengan biaya rendah. Studi itu dipublikasikan dalam jurnal Science Bulletin. Ant

17
January

VOINEWS - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengutuk serangan rudal Rusia di sebuah kompleks apartemen di Ukraina selama akhir pekan lalu.

Serangan rudal Rusia itu telah menewaskan puluhan warga sipil dan melukai banyak orang lainnya.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (16/1), juru bicara Guterres, Stephanie Tremblay, mengatakan bahwa Sekjen PBB itu mengutuk keras serangan rudal mematikan di sebuah bangunan tempat tinggal di Kota Dnipro, Ukraina, di mana sedikitnya 40 orang tewas, lebih banyak orang lainnya terluka, dan puluhan orang hilang.

"Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil melanggar hukum kemamusiaan internasional. Itu harus segera diakhiri," kata Guterres.

Sebuah rudal Rusia menghantam sebuah gedung apartemen di Kota Dnipro, Ukraina timur pada Sabtu pagi (14/1) ketika banyak penduduk sedang tidur.

Serangan itu mengakibatkan sedikitnya 40 kematian dan puluhan orang cedera.

Serangan itu adalah salah satu yang paling mematikan bagi warga sipil sejak Rusia memulai perangnya melawan Ukraina hampir satu tahun lalu. Ant

17
January

 

 

VOINEWS - China telah menyetujui mengeluarkan beberapa jenis visa untuk warga negara Jepang dan Korea Selatan sebagai pengecualian dari kebijakannya untuk menangguhkan fasilitas visa untuk kedua negara tetangganya itu.

Kebijakan penangguhan visa itu diterapkan Pemerintah China setelah Jepang dan Korsel memperketat kontrol perbatasan terhadap pengunjung dari China, kata sumber pemerintah China, Senin.

Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri China dalam konferensi pers pada Jumat lalu (13/1) mengatakan bahwa pemerintah China telah secara fleksibel menerapkan kebijakan pembatasan pemberian visa yang diperkenalkan pada awal pekan lalu itu, dengan pengecualian yang dibuat untuk diplomat, pejabat pemerintah, dan pebisnis yang memiliki kebutuhan mendesak.

Namun, pemerintah China belum merilis kriteria yang disyaratkan untuk penerbitan visa pengecualian, dan sumber pemerintah mengatakan hal itu akan diputuskan berdasarkan kasus per kasus.

Jepang dan Korea Selatan termasuk di antara sejumlah negara yang telah memperketat kontrol perbatasan mereka dengan menargetkan pengunjung dari China untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Pengetatan kontrol perbatasan itu diterapkan saat Beijing membuka kembali perbatasannya dan mengabaikan tindakan karantina mulai 8 Januari meskipun terjadi lonjakan kasus COVID setelah pelonggaran signifikan dari langkah-langkah pencegahan penyebaran virus corona.

Pada 10 Januari, China menghentikan penerbitan visa untuk pengunjung dari Jepang dan Korea Selatan. Beijing pun mengkritik tindakan Jepang dan Korsel terhadap para pengunjung dari China dengan menilainya sebagai tindak pembatasan masuk yang "diskriminatif".

Beijing juga belum mengklarifikasi waktu untuk menormalkan kembali kebijakan pemberian visa.

Pada Senin (16/1), Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menegaskan kembali bahwa langkah-langkah tanggapan COVID harus "berdasarkan ilmu pengetahuan dan proporsional" dan "tidak dipolitisasi".

Beijing mendesak negara-negara untuk bekerja sama dengan China untuk melanjutkan aksi saling kunjung antar warga dan perjalanan lintas batas secara normal.

Negara-negara yang memperketat kontrol perbatasannya terhadap pengunjung dari China menyebutkan alasan kebijakan itu terkait kurangnya data yang kredibel mengenai jumlah kasus infeksi di China dan kekhawatiran bahwa varian virus baru dapat muncul di negara Asia tersebut.

Pada Sabtu, otoritas kesehatan China melaporkan hampir 60.000 kematian terkait COVID-19 sejak 8 Desember 2022 lalu hingga Kamis (12/1), tetapi angka tersebut tidak termasuk mereka yang meninggal di rumah dan jumlah kematian sebenarnya diyakini bahkan lebih tinggi.Ant