Sunday, 28 February 2021 00:00

Pendap, Makanan Khas Bengkulu

Written by 
Rate this item
(1 Vote)
Kompas Kompas

Pendap atau babatuk merupakan salah satu makanan khas dari Provinsi Bengkulu. Pendap atau biasa disebut ikan pais ini ini selain sudah sampai ke daerah lain di Indonesia seperti Jakarta, Lampung, Palembang dan daerah lainnya di Indonesia, juga sudah mulai dikenal oleh wisatawan dari negara mancanegara. Makanan khas dari Bengkulu ini juga menjadi makanan favorit Presiden pertama Indonesia, Soekarno ketika menjalani pengasingan di Kota Bengkulu dari tahun 1938 sampai tahun 1942. Masakan Pendap juga pernah diusulkan menjadi warisan budaya tak benda oleh provinsi Bengkulu.

Pendap yang berbahan dasar ikan kembung ini diolah dengan bumbu khusus bersama dengan kelapa parut dan dimasak dalam bungkusan daun talas dan daun pisang. Bumbu khusus di sini terdiri dari   bawang putih, bawang merah, ketumbar, cabai, lengkuas, jahe. merica, kencur, garam dan penyedap. Bumbu tersebut kemudian dihaluskan dan dicampur dengan parutan kelapa muda lalu dilumurkan merata pada ikan. Kamudian ikan dibungkus dengan daun talas dan bagian luarnya dibungkus lagi dengan daun pisang. Setelah itu diikat dengan daun pandan. Ikan yang sudah dibungkus kemudian direbus selama 8 jam hingga matang.

Biasanya proses memasak ini dilakukan di atas tungku besar dan masih menggunakan kayu bakar agar rasanya tetap sama seperti peninggalan leluhur. Inilah yang membuat bumbu meresap ke dalam ikan dan daun keladi yang membungkus ikan tersebut. Pendap yang bercita rasa gurih dan pedas ini sangat cocok dimakan bersama nasi panas. Selain untuk makan bersama keluarga , pendap juga sering disajikan pada upacara adat.

Di kedai Pendap di Bengkulu, Pendap dijual dengan harga Rp. 10.000 sampai dengan Rp. 15.000. Selain menjadi hidangan wajib di Bengkulu, wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu juga bisa membawa Pendap yang dipercaya kaya akan gizi sebagai oleh-oleh, karena kuliner ini bisa tahan beberapa hari.

saat berkunjung ke Bengkulu jangan lewatkan untuk mencicipi makanan khas daerah ini.

 

Read 457 times Last modified on Sunday, 28 February 2021 18:50