03
October

 

(voinews.id)- Duta Besar Inggris dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia menyampaikan belasungkawa atas tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, usai pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya.

"Turut berduka cita atas jatuhnya korban jiwa dalam insiden yang terjadi di pertandingan sepak bola di Malang. Doa kami menyertai keluarga para korban," kata Dubes Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins di akun @Owen Jenkins di Twitter, Jakarta.

Dubes Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva juga menyampaikan ucapan dukacita atas tragedi tersebut. "Duta Besar Rusia untuk Indonesia Ibu Lyudmila Vorobieva dan seluruh staf Kedubes Rusia di Jakarta mengucapkan belasungkawa yang mendalam terkait tragedi di Malang," menurut pernyataan dalam unggahan Kedutaan Besar Federasi Rusia di Indonesia melalui kanal Telegram resmi mereka.

Sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dalam tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, usai pertandingan kedua tim dari Jawa Timur itu. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Polisi Nico Afinta dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu, mengatakan dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut, dua di antaranya merupakan anggota kepolisian.

Afinta mengatakan bahwa pertandingan tersebut berjalan dengan lancar, tetapi setelah permainan berakhir, sejumlah pendukung Arema merasa kecewa dan turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial. Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain. Namun, petugas akhirnya terpaksa melepaskan gas air mata.

"Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak napas, kekurangan oksigen," katanya. Pertandingan itu berakhir dengan skor akhir 2-3 untuk kemenangan Persebaya dan menjadi kekalahan kandang pertama Arema dari klub Surabaya itu dalam 23 tahun terakhir.

 

antara

03
October

 

(voinews.id)- Jepang siap untuk mengambil langkah "menentukan" di pasar valuta asing jika pergerakan yen yang berlebihan terus berlanjut, Menteri Keuangan Shunichi Suzuki mengatakan pada hari Senin, dalam peringatan baru terhadap investor yang menjual mata uang Jepang.

"Penting bagi mata uang untuk bergerak stabil, karena pergerakan tajam dan sepihak tidak diinginkan," kata Suzuki dalam konferensi pers pasca pertemuan kabinet, mengacu pada penurunan tajam yen baru-baru ini.

"Kami melakukan intervensi beberapa hari yang lalu dan kami telah mengatakan bahwa kami akan mengambil langkah tegas sesuai kebutuhan. Tidak diragukan lagi ini telah mencegah gerakan spekulatif," katanya.

Jepang menghabiskan hingga 2,8 triliun yen (19,34 miliar dolar AS) untuk intervensi di pasar valuta asing bulan lalu guna menopang yen ketika jatuh ke level terendah 24 tahun di dekat 146 yen. Mata uang Jepang terakhir diperdagangkan pada 144,75 terhadap dolar.

Ditanya tentang besaran intervensi, Suzuki mengatakan besaran itu diputuskan dengan mempertimbangkan faktor-faktor komprehensif.

 

antara

03
October

 

(voinews.id)- Jalur kereta Cina-Thailand menjadi bagian penting dari jaringan jalur kereta trans-Asia serta merupakan jalur kereta cepat standar pertama di Thailand.

Ketika rampung, jalur tersebut bermanfaat untuk membawa kereta-kereta dari Bangkok ke kota perbatasan Nong Khai, lokasi jembatan yang menghubungkan dengan jalur kereta Cina-Laos. Dengan demikian, perjalanan dari Bangkok, melalui Laos, menuju Kunming di Provinsi Yunnan, Cina, akan terakomodasi dengan kereta.

Bagi Viroj Lubkritcom (59), seorang insinyur Thailand, pembangunan jalur kereta Cina-Thailand lebih dari sekadar infrastruktur fisik untuk konektivitas kedua negara.

Para analis mengatakan ketika beroperasi, jalur kereta Cina-Thailand bukan hanya akan menyuntikkan vitalitas ke dalam pembangunan ekonomi di sepanjang jalur tersebut di Thailand, tetapi juga mendorong hubungan jaringan jalur kereta pan-Asia serta mempromosikan konektivitas regional.

 

antara

 

03
October


(voinews.id)Pemerintah Indonesia dan Australia bersepakat memperkuat kerja sama dalam pemberantasan penangkapan ikan secara ilegal di sekitar perbatasan laut kedua negara.

Kerja sama tersebut merupakan upaya menjaga sumber daya kelautan dan perikanan dari ancaman tindakan penangkapan ikan secara ilegal dan tidak sesuai aturan (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing/IUUF), khususnya di wilayah perbatasan Laut Timor dan Arafura.

“Indonesia dan Australia berkomitmen untuk terus mewujudkan wilayah maritim yang aman dan damai dari kegiatan penangkapan ikan yang tidak sah, tidak dilaporkan dan tidak diatur," kata Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan pada Kementerian Kelautan dan Perikatan (KKP) Laksamana Muda TNI Adin Nurawaluddin dalam keterangan tertulis, Minggu.

Kesepakatan itu, kata Adin, adalah realisasi dari resolusi jangka panjang yang telah disepakati dalam pertemuan tahunan 22nd Indonesia-Australia Fisheries Surveillance Forum (IASFS) di Darwin, Australia.

Dia mengatakan sebagai bentuk komitmen kedua negara yang tertuang dalam dokumen IASFS itu, Indonesia dan Australia membentuk tiga kelompok kerja (working group) untuk menjalankan aksi bersama dalam mendukung upaya pemberantasan penangkapan ikan ilegal.

Ketiga kelompok kerja itu masing-masing mengurusi bidang kampanye informasi publik (public information campaign), pengawasan dan penegakan hukum (surveillance and law enforcement), serta mata pencaharian alternatif (alternative livelihood).

Di bidang kampanye publik, kelompok kerja menjalankan program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Mengajar melalui aksi edukasi dan sosialisasi penangkapan ikan yang berkelanjutan di Rote dan Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Di bidang pengawasan dan penegakan hukum, kelompok kerja melakukan aksi patroli terkoordinasi di wilayah perbatasan Laut Timor dan Arafura, pertukaran data dan informasi pengawasan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Adin berharap aksi bersama tersebut tidak hanya mampu memberantas penangkapan ikan ilegal, tetapi juga berkontribusi positif dan aktif dalam upaya-upaya global di bidang pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, termasuk ketahanan pangan di kawasan global.

Meski demikian, Adin mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi dalam implementasi kelompok kerja ini ialah mewujudkan mata pencaharian alternatif bagi para nelayan yang melakukan penangkapan ikan ilegal. Berbagai pihak perlu dilibatkan untuk dapat merealisasikan aksi tersebut.

“Salah satu hasil terpenting dari pertemuan IAFSF ke-22 (adalah) bahwa Ditjen PSDKP, Australia Border Force (ABF), dan Australian Fisheries Management Authority (AFMA) sepakat (bahwa) pemberantasan kegiatan nelayan pelintas batas yang ilegal harus dilaksanakan secara komprehensif, tidak hanya bertumpu pada pengawasan dan penegakan hukum, namun juga melalui penyadaran dan pemberian mata pencaharian alternatif," kata Adin.

 

antara

Page 1 of 925