15
April

 

VOInews.id- Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) akan mengadakan pertemuan pada Minggu waktu setempat, atas permintaan Israel usai serangan Iran. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan penembakan puluhan pesawat nirawak dan rudal ke arah kawasan rezim Zionis di wilayah pendudukan Palestina pada Sabtu (13/4) malam. Penembakan tersebut terjadi sebagai respons atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus, Suriah, beberapa hari lalu.

 

Presiden Dewan Keamanan PBB untuk bulan April asal Malta, Vanessa Frazier mengatakan kepada wartawan pada Sabtu bahwa pihaknya akan bertemu pada hari Minggu pukul 16.00 waktu setempat, menanggapi permintaan Israel. Israel mengkritik semua departemen di PBB selama enam bulan terakhir sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023.

 

Namun kini, Israel mengajukan permintaan untuk bertemu Dewan Keamanan PBB. Selain itu, Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan telah mengirimkan surat kepada Frazier, memintanya untuk mengadakan pertemuan darurat mengenai serangan Iran. Erdan juga mendesak PBB untuk terang-terangan mengutuk tanggapan Republik Islam terhadap agresi Israel. Dalam perkembangan terkait, Duta Besar Iran dan Wakil Tetap Iran untuk PBB Amir-Saeid Iravani mengatakan jika rezim Israel melakukan agresi militer lagi, respons Iran pasti akan menjadi lebih kuat, dan lebih tegas. Iravani menyampaikan pernyataan tersebut dalam suratnya yang dikirim kepada Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres dan Frazier pada Sabtu.

 

“Tindakan ini merupakan bentuk pelaksanaan hak yang melekat pada Iran untuk membela diri sebagaimana diuraikan dalam Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan sebagai respons terhadap agresi militer Israel yang berulang, khususnya serangan bersenjata pada tanggal 1 April 2024 terhadap lokasi diplomatik Iran, yang bertentangan dengan Pasal 2 (4) Piagam PBB,” demikian menurut pernyataan duta besar Iran.

 

Dia menambahkan adalah hal yang sangat disesalkan,karena Dewan Keamanan PBB gagal dalam tugasnya menjaga perdamaian dan keamanan internasional, membiarkan rezim Israel melanggar garis merah dan melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional. Menurutnya, pelanggaran semacam itu memperburuk ketegangan di kawasan dan mengancam perdamaian dan keamanan regional dan internasional. “Republik Islam Iran tidak akan ragu untuk menggunakan haknya untuk membela diri bila diperlukan,” ujar Iravani.

 

Sumber: IRNA-OANA

15
April

 

VOInews.id, Jakarta: Rusia pada Minggu mengatakan sangat prihatin tentang eskalasi berbahaya di Timur Tengah, seiring dengan adanya serangan Iran ke wilayah Israel. Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan menyatakan keprihatinan atas eskalasi berbahaya lainnya di kawasan tersebut.

 

Pihaknya berulang kali memperingatkan bahwa banyaknya krisis di Timur Tengah yang belum terselesaikan, terutama di zona konflik Palestina-Israel, seringkali dipicu tindakan provokatif yang tidak bertanggung jawab, akan meningkatkan ketegangan. Kemenlu Rusia mengatakan Dewan Keamanan PBB tidak dapat menanggapi serangan Iran ke Israel karena posisi negara-negara Barat yang menjadi anggotanya. Pernyataan tersebut menanggapi Kemenlu Iran yang menyatakan serangan tersebut sesuai dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai tanggapan atas serangan udara terhadap Kedutaan Besar Iran di Suriah.

 

Iran memulai serangan udara pada Sabtu terhadap Israel sebagai pembalasan atas serangan udara Israel tanggal 1 April terhadap fasilitas diplomatiknya di ibukota Suriah, Damaskus. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tujuh anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran, termasuk dua jenderal penting.

 

Teheran menuduh Israel melakukan serangan itu dan berjanji akan membalasnya. Tel Aviv belum secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun selama berbulan-bulan telah melakukan sejumlah serangan terhadap sasaran Iran di Suriah. Iran dan sekutu utamanya di Lebanon, Hizbullah, mengatakan serangan itu tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran.

 

Sumber: Anadolu-OANA

11
April

Tambang batu bara Peak Downs dan Saraji di Queensland, Australia pada 2012. (Foto: Wikimedia Commons/Beyond Coal & Gas Image Library)

 

VOInews, Sydney: Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese meluncurkan Undang-Undang Buatan Australia Masa Depan (Future Made in Australia Act), Kamis (11/4/2024). Beleid itu bertujuan membantu Australia bersaing dengan mitra global, yang memberikan subsidi besar-besaran kepada industri-industri baru. Undang-undang (UU) tersebut rencananya akan dibahas parlemen Australia tahun ini.

05
April

 

VOInews.id- Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (EU) Josep Borrell dan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian melalui panggilan telepon pada Rabu mendiskusikan serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus, Suriah pekan ini. "Saya berbicara dengan Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian, menegaskan kembali kecaman kami atas serangan terhadap fasilitas diplomatik Iran di Damaskus yang mengakibatkan beberapa korban jiwa," kata Borrell di akun media sosial X. Borrell menyoroti perlunya keamanan tempat dan personel diplomatik yang tidak dapat diganggu gugat menurut hukum dan perjanjian internasional. Dia menambahkan bahwa "perlu menghindari eskalasi lebih lanjut."

 

Serangan Israel menewaskan tujuh orang, termasuk dua jenderal dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigjen Jenderal Mohammad Reza Zahedi, yang memimpin pasukan elite Quds di Lebanon dan Suriah hingga 2016, dan Jenderal Mohammad Hadi Haji Rahimi, yakni wakil komandan di Pasukan Quds.

 

Sumber: Anadolu

Page 7 of 1156