Komentar

Komentar (900)

06
April

Sejak pandemi virus Corona atau Covid-19 melanda hampir seluruh negara di dunia, berbagai upaya dilakukan untuk memperlambat penyebarannya. Setiap negara memiliki kebijakan berbeda-beda dalam merespon wabah Covid-19. Ada yang   menghimbau warganya  untuk menerapkan social distancing atauphysical distancing(menjaga jarak satu sama lain). Dan  ada pula  yang  memberlakukan lockdown atau penguncian wilayah negara. Kesemuanya   diyakini dapat menghambat penyebaran virus Covid-19.

Bagaimana dengan Indonesia? Akhr-akhir ini beberapa kalangan mendesak pemerintah pusat untuk memberlakukan kebijakan lockdown atau penguncian wilayah. Hal ini disebabkan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah dengan pesat. Namun tampaknya, pemerintah pusat belum mau memberlakukan kebijakan tersebut, meskipun beberapa kota di Indonesia telah memberlakukan karantina wilayah atau lockdown wilayah guna menutup akses keluar masuk ke wilayahnya.

 

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam video conference, Selasa (31/3/2020) menyatakan lebih memilih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam menghadapi pandemi virus Covid-19. Kebijakan itu diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 yang telah ditandatangani Presiden. Aturan pelaksanaannya  dirilis Kementerian Kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 pada Jumat (3/4/2020).

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19 untuk mencegah penyebarannya.  PSBB dilakukan selama masa inkubasi terpanjang, yaitu 14 hari. Jika masih terdapat bukti penyebaran berupa adanya kasus baru, dapat diperpanjang dalam masa 14 hari sejak ditemukannya kasus terakhir.

 

Jika dicermati, isi Permenkes tersebut, memang  lebih longgar daripada lockdown atau penguncian wilayah. Dalam PSBB meskipun ada pelarangan dan pembatasan kegiatan di sekolah dan kantor, tempat ibadah, tempat umum, transportasi umum, juga   kegiatan sosial budaya, warga masih diperbolehkan berlalu lalang dan  keluar rumah untuk alasan yang dianggap penting. Berbeda dengan beberapa negara yang memberlakukan lockdown di mana warga tidak diperbolehkan sama sekali keluar rumah kecuali untuk membeli kebutuhan pokok dan obat-obatan.  Beberapa negara bahkan memberlakukan sangsi denda dan hukuman pidana bagi warga yang keluar rumah

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diambil pemerintah Indonesia merupakan langkah yangdianggap  tepat untuk meningkatkan disiplin masyarakat  dan diharapkan dapat mengurangi penyebaran virus Covid-19. Memang, yang terpenting adalah disiplin masyarakat untuk membatasi kegiatan di luar rumah dan menghindari tempat keramaian serta menjaga kesehatan dan kebersihan yang dimulai dari diri sendiri.

03
April

Memasuki bulan ke 4 setelah kasus pertama Corona-Covid19 ditemukan di Wuhan, Desember 2019 lalu, kini Wuhan khususnya, dan Tiongkok pada umumnya, telah berbenah dan berangsur kembali normal. Tidak cuma itu, Tiongkok kemudian menjadi negara pertama yang berusaha menemukan vaksin Corona-Covid19. Pekan lalu ketua peneliti vaksin Chen Wei dari Laboratoriumnya di Wuhan menyatakan proses penemuan vaksin itu telah memasuki tahap ujicoba / tes pada manusia. Jika ternyata efektif, akan diproduksi secara massal.

Selanjutnya ada kelompok Ilmuwan Australia yg juga berupaya menemukan vaksin Corona-Covid19 dan mulai melakukan tes untuk 2 orang potensial kandidat. Dari waktu yang biasanya dihabiskan 12 bulan, diupayakan vaksin akan berhasil diformulasikan dalam waktu 3 bulan. Selain itu, Rusia pun menambah daftar negara yang berusaha menemukan vaksin tersebut.

Ditengah merebaknya Corona-Covid19 dengan korban tertular tiap negara mencapai hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang, usaha penemuan vaksin menjadi samgat penting. Makin cepat formula vaksin ditemukan, maka makin banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Hampir tiap negara saat ini mengalami masa puncak serangan Corona-Covid19. Karena itu penemuan vaksin harus dipercepat untuk segera disebarkan. Namun apa daya, sepertinya hal ini memang masih perlu waktu.

Saat ini  upaya preventif atau pencegahanlah yg seharusnya ditingkatkan. Sambil sama2 menunggu vaksin yg akan dihasilkan. Himbauan physical distancing, menghindari kerumunan, meningkatkan imunitas dengan gaya hidup sehat, terutama sering cuci tangan dengan benar, dan langkah lainnya perlu terus dilaksanakan. Sehingga jumlah korban akibat Corona-Covid19 akan terus ditekan dan pandemi ini dapat berakhir.

02
April

Pemerintah Indonesia resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No.1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan.  Perppu ini yang ditetapkan dan diundangkan, Selasa (31/3/2020) diterbitkan lantaran wabah Virus Korona (Covid-19) yang melanda Indonesia telah memasuki kategori kegentingan yang memaksa, karena bukan hanya menimbulkan masalah kesehatan, tetapi juga memicu implikasi perekonomian luar biasa.

Perppu ini, menurut Presiden Joko Widod, akan memberikan fondasi bagi pemerintah dan otoritas di industi perbankan dan jasa keuangan dalam menerapkan langkah-langkah menjamin kesehatan masyarakat, menyelematkan perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan.

Perppu tersebut berisi tentang stimulus fiskal, stimulus moneter, stimulus keuangan, serta berbagai kebijakan untuk mengatasi seluruh dampak yang ditimbulkan oleh wabah Covid-19, baik bagi masyarakat umum maupun dunia usaha.

Berdasarkan Perppu ini, dalam hal kebijakan fiskal, pemerintah menambah belanja APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun.  Jumlah tersebut dialokasikan  untuk belanja bidang kesehatan, perlindungan social, pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional, termasuk restrukturisasi kredit serta penjaminan dan pembiayaan dunia usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah. Anggaran bidang kesehatan akan diprioritaskan untuk perlindungan tenaga kesehatan, terutama pembelian alat pelindung diri (APD), pembelian alat-alat kesehatan, upgrade rumah sakit rujukan, serta insentif dokter, perawat, dan tenaga rumah sakit.  Sedangkan, anggaran perlindungan sosial akan diprioritaskan untuk 10 juta keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan.

Untuk bidang nonfiskal, pemerintah membebaskan bea masuk dan kemudahan impor sejumlah barang. Dalam bidang moneter dan keuangan, kebijakan difokuskan untuk memberi daya dukung dan menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Tambahan anggaran itu memadai meski relatif kecil jika dibandingkan dengan anggaran yang dikeluarkan negara lain seperti Amerika Serikat yang mencapai 1 triliun dolar. Walaupun relatif kecil,  tambahan belanja negara dan berbagai stimulus fiskal, menyebabkan defisit APBN 2020 akan melampaui batas 3 persen yang diizinkan Undang-Undang Keuangan Negara. Tahun ini, defisit anggaran diperkirakan mencapai 5,07 persen  dari produk domestik bruto.  

Untuk menekan lonjakan tambahan anggaran dan defisit, pemerintah perlu  menata ulang dan merealokasi anggaran seoptimal mungkin. Pemerintah juga dapat mengalihkan semua anggaran yang tidak mendesak untuk fokus pada penanganan Covid-19 beserta seluruh dampak ekonomi-sosial.

Meski konsekuensinya akan memperbesar defisit, rakyat Indonesia perlu mengapresiasi respons kebijakan pemerintah yang cepat dengan menerbitkan Perppu No.1/2020 untuk mengatasi dampak negatif terhadap perekonomian nasional akibat Covid-19.

Setelah Perppu ini disetujui oleh DPR, hal yang menjadi perhatian utama berikutnya adalah peraturan-peraturan turunan terhadap Perppu tersebut guna memperlancar pelaksanaannya  di lapangan.

01
April

Pandemik Corona Covid19 di berbagai negara menunjukkan kecenderungan perkembangan berbeda. Selain kabar duka, muncul juga sisi menggembirakan. Italia, negara dengan kekuatan ekonomi ketiga di Eropa meningkat keprihatinannya. Seiring semakin banyaknya penduduk yang meninggal dunia, ekonomi negara itupun di ambang resesi. Sampai Selasa kemarin dikabarkan sedikitnya 11 ribu 590 orang penduduk Italia telah meninggal dunia. Hal ini menyebabkan pemerintah mengumumkan masa berkabung nasional dengan menaikkan bendera setengah tiang. Pemerintah Italia mencatat telah lebih dari 100 ribu orang terinfeksi Covid 19. Karena itu, walaupun berbiaya mahal dan berdampak berat secara ekonomis, Pemerintah Italia terpaksa memperpanjang lockdown sampai pertengahan April.

Sementara negara-negara lainnya mengumumkan lockdown atau memperpanjangannya, di Wuhan, Cina, tempat virus Corona pertama terditeksi, lockdown akan segera diakhiri.   Pemerintah di Wuhan mengumumkan penutupan atau lockdown akan berakhir 8 April mendatang. Setelah dua bulan aktivitas terhenti, warga Wuhan akan memulai kembali kehidupan seperti biasa. Pusat perbelanjaan terbesar di Wuhan, International Plaza, dilaporkan sudah mulai dibuka. Meski begitu, para petugas dan pegawai masih tetap menggunakan masker saat melayani pelanggan, yang secara disiplin menjaga jarak antara satu sampai satu setengah meter. Kabar baik seiring segera diakhirinya Lockdown di Wuhan adalah tidak adanya laporan kasus baru selama 6 hari terakhir. Tim Medis dari luar propinsi Wuhan juga berangsur dipulangkan ke kota atau provinsi awal diiringi ucapan terima kasih penduduk Wuhan. Selain di Wuhan, propinsi Hubei juga mencatat optimisme baru. Pemerintah setempat menyatakan 4,6 juta orang sudah dapat mulai bekerja pada hari Sabtu. Ponsel penduduk baik di Wuhan maupun Hubei telah menunjukkan tanda hijau yang berarti mereka sehat. Lockdown di Wuhan memang sudah dipersiapkan dengan baik. Setiap penduduk mengisi data pribadi di Ponsel melalui aplikasi yang dirancang pemerintah. Melalui pengiriman data lengkap masing masing. dapat diketahui kondisi kesehatan setiap orang. Secara otomatis sinyal warna hijau akan menyala bagi yang sehat dan merah bagi yang sakit atau terindikasi terinfeksi. Peraturan tidak keluar rumah yang diberlakukan secara ketat disertai monitoring pergerakan penduduk, membuat lockdown di Wuhan berhasil baik.

Kabar baik dari Wuhan dan Hubei Cina tentu merupakan informasi yang penting bagi pemerintah negara lain dalam melawan Covid 19. Perencanaan dan pendataan yang baik, ketegasan pelaksanaan aturan serta kedisiplinan warga, dapat menjadi salah satu acuan bagi negara manapun yang sedang berperang melawan virus yang masih terus merajalela itu. Ketika negara negara lain sedang mulai memulai perjuangan, Wuhan dan Hubei memulai hidup baru dan kembali menata ekonominya, setelah menunjukkan keberhasilan melawan Corona. Semoga sukses Wuhan,China, juga dapat diikuti oleh negara-negara lain.

31
March


Menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri sudah menjadi budaya bangsa Indonesia untuk pulang kampung atau mudik. Namun, tahun 2020 ini situasinya berbeda. Bulan puasa dan hari raya didahului oleh pandemi virus corona, Covid-19. Di Indonesia, lebih dari seribu orang positif terjangkit Covid-19. Lebih dari seratus orang meninggal karena penyakit itu. Beberapa Kepala Daerah telah menghimbau warganya yang merantau di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya untuk tidak mudik tahun ini. Himbauan itu dikeluarkan demi mencegah penularan Covid-19 di kampung. Bahkan, ada pemerintah daerah yang menutup akses ke daerahnya untuk para pemudik.

Namun, kenyataannya sudah banyak orang yang mudik lebih awal. Dalam rapat terbatas terkait Antisipasi Mudik Lebaran melalui siaran langsung akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (30/3), Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa selama 8 hari terakhir, tercatat 876 armada bus antarprovinsi yang membawa lebih kurang 14.000 penumpang dari wilayah Jakarta, Bogor Depok, Tangerang, dan Bekasi -Jabodetabek ke Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur. Ini belum dihitung yang menggunakan transportasi massal, misalnya kereta api dan kapal dan angkutan udara serta mobil pribadi. Menurut Presiden, arus mudik itu sudah berlangsung sejak penetapan tanggap darurat di Jakarta pada tanggal 20 Maret 2020.

Padahal fokus pemerintah saat ini adalah mencegah meluasnya Covid-19 dengan mengurangi atau membatasi pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain.

Imbauan tidak mudik telah diserukan oleh berbagai pihak, seperti Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga Presiden dan Wakil. Kini, Presiden Joko Widodo meminta pemerintah daerah lebih tegas melarang warga mudik ke kampung demi keselamatan bersama.

Namun, Presiden juga menilai bahwa banyaknya warga yang mudik saat ini bukan lagi faktor budaya melainkan karena terpaksa. Umumnya, warga yang mudik dari wilayah Jabodetabek dikarenakan penghasilan menurun drastis imbas wabah Covid-19. Himbauan tinggal di rumah menurunkan penghasilan para perantau yang rata-rata adalah pedagang kecil. Masyarakat kecil menghadapi dilema. Tetap ditempat mereka mencari nafkah, tanpa bisa berbuat apa-apa, atau pulang kampung dengan resiko kemungkinan menularkan virus corona di kampung.

Pemerintah tak punya waktu banyak untuk menolong mereka. Harus ada bantuan cepat agar mereka tidak mudik namun terjamin hidupnya di perantauan. Bagi yang lebih mampu diharapkan kesadarannya untuk tidak nekat pulang kampung.

Tidak mudik adalah untuk saling melindungi. Orangtua, kakek dan nenek di kampung adalah orang yang rentan tertular virus corona. Jika sayang kepada mereka, mudik harus ditunda, hingga wabah Covid-19 berlalu. Sekarang yang dibutuhkan adalah kesadaran diri untuk melaksanakan ‘Stay Home’ atau ‘Physical Distancing’. Tentunya, sebagai umat beragama, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa juga tak kalah pentingnya agar wabah Covid-19 segera berlalu.

30
March

Wabah virus corona belum diketahui kapan akan berakhir. Hingga kini sudah lebih dari seribu masyarakat Indonesia yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona [Covid-19]. Tak sedikit pihak yang ragu pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai target 5 persen jika wabah Covid-19 tak kunjung mereda. Oleh karena itu, berbagai macam cara dilakukan pemerintah untuk menjaga perekonomian nasional. Mulai dari menjaga daya beli hingga menjaga ketersediaan pangan.

Untuk menekan penyebaran yang lebih luas Covid-19, pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk berdiam diri di rumah, termasuk dalam beraktivitas seperti melakukan pekerjaan, belajar dan beribadah. Khawatir dengan sebaran virus corona yang semakin meluas, sejumlah kota dan provinsi di Indonesia bahkan sudah ada yang menerapkan lockdown lokal, seperti di Kota Tegal dan Provinsi Papua. Kebijakan Pemerintah lokal ini bertujuan untuk menangkal dan memutus penyebaran wabah Covid-19 antarmanusia.

Namun di sisi lain, himbauan pemerintah agar masyarakat mengurangi aktivitas, atau tidak melakukan kegiatan di luar rumah apabila memang tidak penting, telah mengurangi daya beli masyarakat. Hal ini sangat terasa terutama pada mereka yang bekerja di sektor informal. Untuk meredam dampak ekonomi terhadap rumah tangga serta menjaga daya beli masyarakat di tengah pelemahan ekonomi akibat penyebaran virus corona, pemerintah akan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Sasarannya adalah sekitar 29.3 juta masyarakat yang masuk ke dalam kelompok 40 persen termiskin di Indonesia. Selain itu bantuan juga diberikan kepada   para kelompok pekerja informal seperti buruh harian, pengusaha warung, pedagang kecil serta pengemudi transportasi online.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, Bantuan Langsung Tunai- BLT dapat menjadi pengganti sementara penghasilan masyarakat di sektor informal. Diharapkan, dengan mendapat BLT masyarakat bisa lebih disiplin mengikuti pedoman pemerintah dalam menangani pandemi corona. Artinya, untuk sementara para penerima bantuan tidak perlu keluar rumah mencari uang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Dengan demikian himbauan untuk tidak keluar rumah, berkerumun dan menjaga jarak fisik (physical distancing) dapat lebih dipatuhi.

27
March


Dengan adanya  pandemi Covid 19, hampir tidak ada negara din dunia  yang tidak repot mengatasi sebaran virus corona baru ini. Orang-orang  yang  selalu berada  paling depan bekerja keras, mempertaruhkan  waktu, tenaga dan fikiran, bahkan juga nyawa,  adalah para tenaga medis. Mereka  tidak cuma menjadi Tim pemyelamat namun tak jarang  sekaligus menjadi  korban. Tiap negara menyimpan dokumentasi kisah kepahlawanan tenaga medisnya masing2. Umumnya  diawali dengan kesulitan mendapatkan alat pelindung kesehatan yang kemudian menyebabkan mereka pun ikut terinfeksi virus Covid19. Tidak ada negara yang betul-betul siap dengan serangan covid19 ini.  Ketidaksiapan para tenaga medis dengan kurangnya alat bantu kesehatan,  berkejaran dengan jumlah korban yang terus berjatuhan.


Dalam kondisi multi krisis yang melanda dunia saat ini, harapan besar
 diletakkan   pada Lembaga2 Internasional yang berkaitan dengan  masalah kesehatan seperti WHO misalnya. Diharapkan mereka lebih   memperhatikan dan mengambil langkah khusus tentang pentingnya Protokol ketersediaan alat dan tenaga Kesehatan. Khususnya  dalam keadaan krisis yang mengglobal seperti sekarang.  Jika tidak, pasca  serangan virus Covid19 maka negara2 ini akan masuk dalam krisis multidimensi lainnya.

26
March


Pada tanggal 24 April, umat Muslim di Indonesia akan segera menunaikan puasa Ramadhan yang penuh berkah. Setiap bangsa mempunyai budaya tersendiri memasuki dan menghadapi Ramadhan. Dalam menghadapi bulan Ramadhan, ada kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia, khususnya para pemudik terhadap penyebaran masif virus corona, Covid-19. Terkait hal tersebut, bagaimana rencana pulang kampung atau mudik dimana pemerintah Indonesia telah menganjurkan untuk melaksanakkan ‘Social Distanacing’ atau menghindari jarak satu sama lain?

Sehubungan dengan mudik, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa jika wabah Covid-19 terus merebak, kemungkinan kebiasaan mudik akan dilarang. Tujuannya adalah untuk menghentikan penyebaran Covid-19 ke berbagai daerah. Jakarta merupakan daerah dengan kasus korban positif tertular tertinggi saat ini. Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Presdien Ma’ruf Amin dan sepakati oleh Menteri Agama Fachrul Razi. Sebelumnya, himbauan untuk tidak bepergian dan bertemu orang banyak sudah dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan. Untuk itu, Badan Nasional Penanggulan Bencana -BNPB terus melakukan pendekatan intensif kepada para tokoh agama dan masyarakat dalam upaya mengurangi tingkat penyebaran Covid-19. 

Sementara itu, Pemerintah sedang melakukan pembahasan dengan pihak-pihak terkait menjelang Ramadhan dan mudik Lebaran 2020. Staf Khusus Menteri Perhubungan, Adita Irawati mengatakan bahwa saat ini, pihaknya bersama kementerian dan lembaga terkait sedang melakukan pembahasan terkait opsi pelaksanaan mudik Lebaran tahun ini. Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain, pelaksanaan mudik seperti biasa, peninjauan mudik, hingga opsi pelarangan mudik.  Opsi-opsi tersebut diambil untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 secara massif.

 

Beberapa pemerintah daerah tidak berdaya untuk mencegah menerima kedatangan para warganya yang pulang ditengah kekhawatiran penyebaran virus. Namun langkah langkah antisipatif dengan penyiapan kamar sterilisasi serta penyemprotan disinfektan  kepada para pendatang di terminal terminal bus sudah dilakukan seperti pemerintah daerah Wonogiri Jawa Tengah.  Selain itu, kampanye kebersihan dan kesehatan melawan Covid-19 terus digaungkan oleh perangkat desa untuk mengurangi penularan. Seperti diketahui provinsi Jawa Tengah kini mengalami kenaikan cukup tajam dalam kasus penderita positif Covid-19, Sehingga opsi pelarangan mudik yang direncakan pemerintah pusat akan disambut positif oleh pemerintah daerah untuk menekan penyebaran Covid-19.

 

Tentunya, menjelang bulan Ramadhan, masyarakat Muslim khususnya di Indonesia dan masyarakat Muslim pada umumnya di berbagai negara sangat mengharapkan bahwa penyebaran Covid-19 dapat segera diatasi. Jikapun hal itu masih terus merebak, para pemudik dari kota-kota di Indonesia dapat menahan diri untuk tidak melakukan mudik massal guna mencegah penyebaran Covid-19 secara massif. Mari kita menyadari dan mengindahkan himbauan pemerintah demi keselamatan jiwa bangsa Indonesia.

25
March

Pandemi Corona Covid 19 telah berdampak pada berbagai sendi kehidupan dan aktivitas manusia, baik individu maupun  sosial, lokal, regional bahkan internasional. Semua negara yang terdampak membatasi secara ketat  pergerakan penduduknya, serta meniadakan aktivitas massal. Perhelatan olahraga dunia yaitu Olimpiade Tokyo  2020 yang rencananya  akan berlangsung dari tanggal 24 Juli sampai  9 Agustus  pun tertunda. Walaupun awalnya enggan,   Jepang selaku Tuan rumah Olympiade  dan olahraga Paralympic kali ini,  akhirnya  terpaksa menunda pesta olah raga yang sudah direncanakan beberapa tahun sebelumnya.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyatakan penundaan Olympiade 2020 karena pandemi coronavirus Covid 19. Walaupun demikian, Jepang tetap berkomitmen menjadi tuan rumah pesta olah raga sejagat itu. Dalam pernyataan bersama antara pemerintah Tokyo dan penyelenggara Olympiade, IOC, disepakati bahwa penundaan dilakukan hingga selambat lambatnya musim panas 2021.  Jepang menyatakan  tetap berkomitmen menjadi tuan rumah dan  meminta agar event internasional itu tetap dinamakan Tokyo 2020.

Penundaan kegiatan olahraga baik lokal, regional maupun internasional sesungguhnya tidak hanya terjadi dengan Olympiade dan paralympic games 2020. Perhelatan pertandingan sepakbola Eropa, Euro 2020 ditunda hingga musim panas 2021.. Sesi pertama balapan mobil formula satu,  grand prix di Monaco pun  mengalami pengunduran waktu.

Penundaan kegiatan olahraga berskala besar memang beralasan. Sebab biasanya selalu  dihadiri banyak orang. Olympiade bahkan akan  dihadiri atlet dari berbagai  negara di dunia yang hampir semuanya terdampak Covid 19. Memang, perhelatan olahraga selain ajang kompetisi sportif juga peristiwa pertemuan antar bangsa. Namun dalam situasi seperti saat ini, ketika dunia terancam oleh Covid 19, keselamatan para atilt dan masyarakat internasional umumnya  tentunya jauh lebih penting. Lagi pula, Olimpiade  Tokyo 2020 bukanlah dibatalkan melainkan ditunda.  Semoga wabah  Corona Covid 19 segera berlalu.

24
March


Perhatian negara-negara di dunia, termasuk Indonesia saat ini adalah  melawan Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19. Jumlah orang yang terinfeksi bertambah, yang tentu saja memerlukan perhatian serius.

Pemerintah Indonesia melakukan segala upaya untuk menangani   Covid-19 ini dengan membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, menunjuk lebih dari 230 rumah sakit menjadi tempat rujukan untuk menangani Covid-19, DAN mengubah Wisma Atlet Kemayoran Jakarta menjadi Rumah Sakit Darurat Covid-19, serta mengirim 155 personel kesehatan Angkatan Darat Tentara Nasional Indonesia -TNI bertugas di Rumah Sakit Darurat tersebut.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo juga sudah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 4 Tahun 2020, Tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran serta Pengadaan Barang dan Jasa pada 20 Maret 2020. Instruksi Presiden ini diterbitkan karena semakin meluasnya penyebaran Covid-19.

Langkah lain yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam percepatan penanganan Covid- 19 adalah penjemputan alat-alat kesehatan langsung dari Shanghai, Tiongkok pada 21 Maret 2020. Setelah transit di Pulau Natuna, Senin (23/3), pesawat Hercules yang membawa 9 ton logistic kesehatan tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Presiden Joko Widodo juga mengatakan bahwa 105 ribu Alat Pelindung Diri, masker dan handsanitizer  tersebut didistribusikan ke seluruh Tanah Air pada Senin (23/3).

Pemerintah Indonesia memang sangat serius dalam percepatan penanganan Covid-19.  Apalagi dalam membeli logistic kesehatan. Mengingat  lebih dari 190 negara juga memerlukannya segera.

Pemerintah Indonesia tidak dapat bergerak sendiri. Seluruh unsur bangsa Indonesia harus terlibat langsung. Pihak swasta telah menunjukkan langkah dukungan terhadap upaya ini dengan memberikan sumbangsihnya berupa penggunaan hotel yang seluruhnya akan digunakan sebagai ruang isolasi rumah sakit. Keterlibatan dalam penyediaan masker oleh pihak swasta untuk  menambah kapasitas produksi masker miliki perusahaan negara juga dibutuhkan.

Upaya dalam menekan penyebaran Covid-19 adalah kesadaran untuk melakukan social distancing. Menahan diri di rumah untuk mengurangi interaksi dengan banyak orang. Kesadaran dan tindakan nyata seluruh rakyat Indonesia untuk menekan penyebaran Covid-10 yang mulai menyerang akhir 2019 ini mutlak dibutuhkan.  Sehingga jumlah yang terpapar tidak makin bertambah, yang terinfeksi segera sembuh, dan angka kematian karena Covid-19 menurun.

Dengan kesadaran dan tindakan nyata semua  pihak seperti penerapan social distancing atau tindakan keras dari pemerintah, prasarana dan fasilitas yang telah disiapkan di Wisma Atlet tidak perlu digunakan lagi. Tidak ada pasien yang dikirim ke Wisma Atlet yang sudah disiapkan menampung tiga ribu pasien. Doa kita bersama Covid-19 segera berlalu.