pesona indonesia

pesona indonesia (544)

27
October

VOI PESONA INDONESIA Bagi Anda pencinta wisata bahari, Blitar di Jawa Timur bisa menjadi destinasi wisata Anda selanjutnya. Di kabupaten ini ada 4 wisata pantai yang bisa Anda kunjungi. Salah satunya adalah pantai Gondo Mayit. Dalam bahasa Jawa, Gondo Mayit memiliki arti bau mayat. Terdengar agak seram memang. Namun justru pantai ini tidak seseram namanya, bahkan tergolong indah. Pantai Gondo Mayit sendiri terletak di sebelah selatan Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Untuk menuju ke sana dibutuhkan waktu sekitar satu jam dari Kota Blitar ke arah Kademangan dan Tulungagung. Untuk masuk ke pantai ini, Anda harus membayar tiket masuk sebesar tujuh ribu rupiah.

pantai Gondo Mayit memiliki pasir yang landai, sangat cocok dijadikan sebagai tempat wisata keluarga. Pasir putihnya sangat bersih, tanpa karang dan tidak ada sampah. Selain itu, karena berada di sebelah selatan pulau Jawa membuat Pantai ini dianugerahi ombak yang cukup besar, sehingga lokasi ini menjadi tempat favorit para peselancar (surfer) untuk mencoba ganasnya ombak pantai Gondo Mayit. Namun jika Anda tidak bisa surfing, Anda pun bisa berenang atau sekedar bermain di pinggir pantainya saja.

berwisata ke pantai Gondo Mayit, Anda bisa puas berfoto dengan latar belakang pemandangan pantai, laut dan bukitnya yang indah. Lelah bermain di pantai Gondo Mayit, Anda juga bisa makan di sejumlah warung makan yang dikelola oleh warga desa setempat. Mereka menjual berbagai macam makanan olahan ikan hasil laut setempat. Kemudian jika ingin bermalam, untuk menikmati keindahan matahari terbenam dan terbit, di puncak bukit terdapat sebuah pondok kayu yang bisa Anda sewa untuk menginap.

26
October

Malioboro

Written by
Published in pesona indonesia

VOI PESONA INDONESIA Liburan ke Yogyakarta tidak akan lengkap tanpa mengunjungi Malioboro yang popular. Malioboro adalah sebuah nama jalan utama yang membelah kota Yogyakarta. Berlokasi di antara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Tugu Pal Putih, jalanan Malioboro menjadi surga oleh-oleh, belanja serta wisata kuliner. Pada malam hari sepanjang jalan Malioboro akan lebih padat dan ramai lagi karena banyak seniman yang mengekspresikan kemampuannya seperti musik, pantomim, melukis dan lainnya. Jalur pedestrian yang dilengkapi dengan beberapa tempat duduk disiapkan Pemerintah Kota Yogyakarta, agar wisatawan dalam negeri maupun mancanegara lebih nyaman dan menikmati suasana Malioboro. Kawasan Malioboro selalu padat dikunjungi wisatawan, meski tidak berbelanja, Malioboro memang sangat apik ditangkap menggunakan kamera. Namun sejak 10 tahun terakhir Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai melakukan pembenahan dan penataan serta mempercantik wilayah jalan Malioboro. Salah satunya adalah mulai tahun 2019 diterapkan aturan baru bahwa setiap Selasa wage kawasan Malioboro bebas dari kendaraan bermotor kecuali kendaraan umum trans jogja serta kendaraan pelayanan masyarakat seperti truk pengangkut sampah, ambulans, dan mobil pemadam kebakaran. Selain bebas kendaraan bermotor, Pedagang Kaki Lima - PKL yang ada di Malioboro juga tutup. Dengan adanya aturan baru ini, banyak kegiatan diselenggarakan setiap Selasa Wage di kawasan Malioboro. Hal ini membuat Malioboro tetap padat didatangi wisatawan.

Malioboro sendiri berasal dari bahasa sansekerta malyabhara yang berarti karangan bunga. Adapula beberapa ahli yang berpendapat asal kata nama Malioboro berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal di Jogja pada tahun 1811- 1816 M. Pemerintah Hindia Belanda membangun Malioboro sebagai kawasan pusat perekonomian dan pemerintahan pada awal abad 19. Malioboro mulai populer pada era kolonial (1790-1945). Ketika itu, pemerintah Belanda membangun Benteng Vredeburg tahun 1790 di ujung selatan Jalan Malioboro. Belanda juga membangun Dutch Club atau Societeit Der Vereneging Djokdjakarta (1822), The Dutch Governo's Residence (1830), Javasche Bank, dan Kantor Pos. Perkembangan Malioboro semakin pesat, ditambah dengan adanya perdagangan antara pemerintah Belanda dengan pedagang Tionghoa. Hingga tahun 1887, Jalan Malioboro dibagi dua setelah Stasiun Tugu Yogya dibangun.

Sejarah lainnya, Jalan Malioboro menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pernah terjadi pertempuran hebat antara pejuang Tanah Air dengan pasukan kolonial Belanda yang dikenal dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pasukan Merah Putih berhasil menaklukkan kekuatan Belanda dan menduduki Yogyakarta setelah enam jam bertempur.

Malioboro terus berkembang hingga saat ini. Dengan tetap mempertahankan konsep aslinya dahulu, Malioboro jadi pusat kehidupan masyarakat Yogya. Tempat-tempat strategis seperti Kantor Gubernur DIY, Gedung DPRD DIY, Pasar Induk Beringharjo hingga Istana Presiden Gedung Agung juga berada di kawasan ini. Pemerintah setempat kini terus melakukan perbaikan untuk menata Malioboro menjadi kawasan yang nyaman untuk disinggahi. Awal tahun 2016 ini pemerintah telah berhasil mensterilkan parkir kendaraan dari Malioboro dan tengah menata kawasan ini di sisi timur untuk pedestrian. Warung-warung lesehan hingga saat ini masih dipertahankan untuk mempertahankan ciri khas Malioboro. Sedangkan untuk para pedagang Kaki Lima- PKL yang selama ini menghiasi koridor pertokoan sepanjang jalan Malioboro kini sudah dipindahkan. Wisatawan yang datang ke Malioboro kini harus siap-siap tidak bisa lagi bertransaksi jual beli dengan PKL di pedestrian. Sebab, PKL Malioboro telah direlokasi dan menempati tempat khusus di Teras Malioboro 1 dan 2. Sebelumnya, terhitung Februari 2022 Pemerintah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merelokasi PKL Malioboro ke dalam kawasan khusus Bernama Teras I dan 2. Lokasi PKL di Teras 1 dan 2 Malioboro ini tetap berada di kawasan utama wisata Yogyakarta. Selain terkenal dengan wisata kuliner dan cinderamata, Kawasan Malioboro kini mencatatkan diri sebagai daerah wisata Karnaval. Hal ini juga tak lepas dari suksesnya pelaksanaan Jogja Fashion Carnival 2022 bertajuk "Abiwada Arsana" yang digelar pada 16 Oktober.

25
October

VOI PESONA INDONESIA Ada desa wisata Mbengan, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur yang begitu memikat. Desa wisata ini punya banyak tempat wisata alam. Beberapa di antaranya, Ngapan Keto (tebing Keto) dengan keunikan pemandangan alam untuk melihat Laut Sawu, Air Terjun Ndalo Werok, Goa Liang Kar, Air Terjun Piripipi, Air Terjun Par Tambang. Untuk wisata budaya, ada atraksi Umbiro, Wai Doka, tarian Kelong, permainan tradisional Napa Tikin, Ghena Ajo, Dang Ajo, Paka Maka, dan berbagai ritual adat yang berkaitan dengan pertanian ladang.

Kali ini kami perkenalkan kepada anda, salah satu atraksi wisata budaya desa Mbengan, yakni Ritual Ghan Woja. Nama ritual ghan woja terdiri dari dua kata, yakni "ghan" yang berarti makan dalam bahasa etnis kolor dan "woja" artinya bulir padi panjang. Jadi ritual ghan woja bermakna makan padi baru guna menandakan berakhirnya tahun lama dan memasuki tahun tanam baru, menurut kalender pertanian para petani di Manggarai Timur. Ritual ini juga sebagai ungkapan rasa syukur bahwa tahun lama sudah lewat dan memasuki tahun baru masa tanam dalam kalender pertanian setempat. Biasanya, ritual ghan woja dilaksanakan pada Juli hingga September tiap tahunnya,

Sebelum melaksanakan ritual ghan woja di rumah, masyarakat Kampung Bungan dilarang membuka kebun baru. Ini aturan lisan yang secara turun temurun ditaati masyarakat setempat. Bila melanggar, maka diyakini hasil panen tidak akan melimpah dan kebun akan diganggu binatang. Biasanya yang ditanam adalah jagung dan padi. Yang menanam pertama di ladang adat di sekitar mbaru mere (rumah adat) yakni suku nanga. Jika tetua adat suku nanga belum menanam padi dan jagung di kebun, warga lain dilarang menanam duluan.


19
September

Umumnya gua-gua yang ada di Indonesia terdiri dari batuan kapur dan berada di lereng bukit, sehingga sering terbentuk stalaktit dan stalagmit. Namun ada salah satu gua di Purbalingga, Jawa Tengah yaitu Gua Lawa, yang termasuk gua vulkanik yang terbentuk dari lava pegunungan aktif yang meleleh dan mengalami pendinginan selama ribuan hingga jutaan tahun. Proses pendinginan lava ini mengakibatkan batuannya keras dan kuat dengan warna hitam tanpa menimbulkan stalaktit maupun stalagmit. Tebal batuan bisa mencapai 50 meter, sehingga tahan terhadap guncangan. Gua Lawa berada di kaki Gunung Slamet, tepatnya di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Tempat ini dinamakan Gua Lawa karena terdapat banyak hewan kelelawar di dalamnya. Gua Lawa atau yang juga biasa disebut Golaga oleh masyarakat setempat, memiliki panjang sekitar 1,5 km dengan ketinggian sekitar 900 mdpl (meter di atas permukaan laut) sehingga udaranya terasa sejuk.

Selain menikmati keindahan alami Gua Lawa, Pemerintah Kabupaten Purbalingga membuat destinasi wisata ini menjadi lebih menarik. Sejak beroperasi sehari setelah lebaran tahun 2018, destinasi wisata ini menyediakan kedai kopi unik yang berada di dalam gua. Dengan munculnya fasilitas tersebut wisatawan yang berkunjung meningkat cukup drastis. Fasilitas ini tentu cocok bagi wisatawan yang ingin melepas lelah sehabis mengelilingi gua. Meneguk secangkir kopi hangat dapat menikmati pemandangan eksotis gua berhiaskan lampu warna-warni seperti merah, biru, hijau, dan lain-lain yang menyala bergantian menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan.

Tak hanya di dalam gua, bagian luar dari kawasan Gua Lawa juga mulai dibenahi oleh Pemerintah setempat. Pintu masuk terdiri atas susunan bata yang sedemikian rupa sehingga menyerupai pintu pada zaman Kerajaan Majapahit. Memasuki kawasan, ada hamparan rumput dan pohon pinus yang rindang. Spot ini memang ditujukan untuk tempat berfoto wisatawan. Karena sudah dikelola oleh pemerintah, akses menuju Gua Lawa cukup mudah. Jika berangkat dari pusat kota Purbalingga, perjalanan yang harus ditempuh sepanjang 27 km. Disarankan berkunjung ke tempat ini dari pagi hari, sebab Gua Lawa buka setiap hari mulai jam 08.00 hingga pukul 17.00 sore. Harga tiket masuknya sekitar, Rp 20.000 untuk hari Senin hingga Jumat sedangkan Rp 25.000 per orang untuk akhir pekan. Sekian Pesona Indonesia dari Voice Of Indonesia.//

06
September



Keindahan topografi berupa pegunungan yang berbatasan langsung dengan pantai membawa Desa Wisata Tepus di Kabupaten Gunung Kidul masuk dalam 50 besar desa wisata terbaik ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Anugerah Desa Wisata Indonesia merupakan ajang pemberian penghargaan kepada desa-desa wisata yang memiliki prestasi dengan kriteria-kriteria penilaian dari Kemenparekraf/Baparekraf. Menparekraf Sandiaga Uno saat Visitasi 50 Desa Wisata Terbaik ADWI 2022 di Desa Wisata Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta, 31 Agustus lalu menyatakan Desa Wisata Tepus menyajikan destinasi wisata yang komplit dengan memadukan antara wisata alam dan wisata budaya serta didukung fasilitas yang memadai. Ia berharap desa wisata ini dapat menjadi salah satu desa wisata terbaik dunia. Adapun Desa Wisata Tepus berjarak 70 kilometer dari Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dengan transportasi darat selama kurang lebih 1,5 jam.

 

Deburan ombak pantai selatan dengan pasir putih di sepanjang bibir pantai membuat wisatawan betah datang ke desa yang dikenal dengan sebutan Dewi Kampus (Desa Wisata Kelurahan Madani Tepus) ini. Kelurahan Tepus sendiri memiliki 12 pantai yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Enam di antaranya dijuluki "Pantai Perawan" karena masih sepi dan belum diketahui banyak orang. Untuk mengunjungi pantai ini, Anda hanya dikenakan biaya retribusi sebesar Rp10.000. Di samping potensi wisata berbasis alam, Desa Wisata Tepus juga kaya akan daya tarik lainnya. Di antaranya kesenian dan budaya yang terus dipelihara, dari seni Jathilan, seni Ketoprak, Karawitan, Rasulan, Bersih Telaga, Kenduri, Kirim Dowa, Nglengani Pari, Pasang Gawar, hingga Larungan.


Desa Wisata Tepus memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Antara lain area parkir, Balai pertemuan, kamar mandi umum, mushala, tempat makan, area WiFi dan homestay. Untuk penginapan atau homestay, ada beberapa pilihan dengan biaya antara Rp 150.000 hingga Rp 250.000. Atraksi wisata yang bisa dinikmati wisatawan juga tidak kalah beragam. Seperti atraksi wisata buatan yang mengedukasi pengunjung soal berbagai cendera mata dari logam perak, melihat proses membatik dan membuat sendiri batik tulis dengan membayar minimal Rp 75.000, naik jip dengan harga mulai Rp 300.000 dan gala dinner dengan harga mulai Rp 45.000.Di desa Wisata Tepus Anda pun bisa belajar karawitan atau belajar kuliner olahan singkong.

05
September

(voinews.id)objek wisata Monumen Bajra Sandhi, adalah sebuah monumen yang berada di jantung kota Denpasar. Monumen ini dibangun dan didedikasikan untuk perjuangan rakyat pulau Bali. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Provinsi Bali dan Gedung DPRD Provinsi Bali, tepatnya di Renon. Pembangunan monumen mulai dilakukan pada tahun 1987 atas prakarsa mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra. Pada tanggal 14 Juni 2003, monumen baru diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri bersamaan dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PK-Bali/PKB). Sejak saat itulah, monumen ini dibuka untuk umum.

Koleksi yang ada di dalam Museum Monumen Perjuangan Rakyat Bali antara lain diorama berjumlah 33 buah, koleksi foto dan lukisan. Dalam diorama tersebut wisatawan dapat melihat kehidupan orang Bali dari masa prasejarah, masa Bali Kuno, masa Bali madya dan masa Bali memperjuangkan serta mengisi kemerdekaan. Setiap diorama diberi keterangan dalam tiga bahasa yakni bahasa Bali, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Monumen Bajra Sandhi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk menghormati para pahlawan serta merupakan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman. Selain itu, juga merupakan lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desain arsitektur dari Ir. Ida Bagus Gede Yadnya, seorang arsitek yang memenangkan kompetisi arsitektur untuk monumen ini, memiliki arti hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, dengan design 17 gerbang pintu masuk, 8 pilar utama dan ketinggian monumen 45 meter.

nama Bajra Sandi berasal dari kata Bajra dan Sandhi. Bajra artinya Genta dan Sandhi artinya suci. Jika dilihat dari bentuk bangunan monumen, memang terlihat seperti Genta Suci yang digunakan oleh para pendeta agama Hindu, saat mengucapkan mantra dalam upacara persembahyangan. Monumen Bajra Sandhi juga memiliki daya tariknya tersendiri bagi wisatawan Asia seperti Jepang, China dan Korea. Bentuknya yang mirip pagoda membuat para wisatawan tersebut tertarik untuk berkunjung. Karena di negara-negara mereka juga banyak ditemukan pagoda. Fasilitas monumen Bajra Sandhi selain museum, juga terdapat perpustakaan, kolam ikan, kerajinan tangan dan toilet. Untuk masuk ke monumen ini pengunjung harus membayar Rp. 25.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp. 10.000 untuk anak-anak. Sedangkan untuk Pelajar hanya perlu membayar Rp. 2.000 dan untuk Mahasiswa sekitar Rp. 5.000.

29
August

(voinews.id)Masjid Wawoangi merupakan masjid tertua di pulau Buton. Lokasinya di atas pegunungan Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Masjid ini juga dikenal dengan nama “Masjid Di Atas Angin”. Dalam bahasa 'cia-cia', bahasa masyarakat setempat, wawoangi artinya di atas angin, sehingga masjid ini disebut Masjid di Atas Angin. Masjid Wawoangi didirikan oleh Syekh Abdul Wahid di tahun 1527 dan dipercaya sebagai masjid pertama dalam mensyiarkan agama Islam di Pulau Buton.

bangunan Masjid Wawoangi tampak sederhana, meski demikian masjid ini punya keunikan tersendiri. Semua bangunan masjid terbuat dari kayu, dindingnya terbuat dari bambu-bambu kecil dengan posisi berdiri dan tidak rapat. Bambu ini diikat dengan ijuk pepohonan. Atapnya terbuat dari kayu jati yang tipis dan tidak ada kubah ataupun menara di samping masjid. Di halaman masjid terdapat pohon cendana dan beberapa makam tua . Salah satu dari makam tua tersebut adalah  makam ayah Sultan Buton VII, Sultan La Saparagau.

masjid Wawoangi sehari-harinya sudah jarang digunakan warga untuk shalat, karena letaknya lumayan jauh dari perkampungan warga. Namun masjid ini masih tetap dijaga kelestariannya dan dipelihara dengan baik oleh warga Desa Wawoangi. Karena untuk kegiatan-kegiatan adat, masjid ini kerap digunakan. Pada saat bulan suci Ramadhan, Masjid Wawoangi ini biasanya dikunjungi warga yang ingin menjalankan shalat Tarawih.

15
August

(voinews.id)Terletak di Kampung Ciharegem Puncak, Desa Cibural, Bandung, Tebing Keraton merupakan salah satu tempat wisata dengan pemandangan yang indah di Bandung. Saat menapakkan kaki di area Tebing Keraton, anda akan disambut oleh pemandangan yang spektakuler. Waktu yang paling tepat untuk datang ke tebing keraton adalah sebelum fajar tiba. Di Tebing Keraton anda akan takjub dengan pemandangan  terbitnya matahari yang perlahan keluar dari balik bukit-bukit yang ada di sebelah timur. Semua keindahan inilah yang membuat sebagian orang percaya bahwa nama Tebing Keraton berasal dari kemegahan alam dan panoramanya yang indah dipandang mata.

Banyak kegiatan yang dapat anda lakukan di Tebing Keraton ini, misalnya, trekking, bersepeda, berkemah dan lainnya. Untuk sampai ke puncak bukit, anda membutuhkan waktu kurang lebih 15-30 menit dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan menuju puncak bukit, anda akan disuguhkan pemandangan hutan yang rindang di sisi kiri dan kanan jalan. Perjalanan pun tidak terlalu sulit karena jalan menuju puncak Tebing Keraton sudah disediakan untuk memudahkan perjalanan pengunjung ke puncak tebing. Tempat wisata ini juga menyedia camping ground untuk para pengunjung yang ingin menikmati malam di Tebing Keraton.

Dari pusat kota Bandung, anda bisa bertolak ke arah Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda melalui Dago Pakar. Memasuki tempat wisata ini anda perlu membayar tiket masuk sekitar Rp 12.000. Tiket masuk ini juga memberikan anda akses ke tempat wisata lain yang berada di kawasan yang sama yaitu Tahura Maribaya. Pengelola kawasan wisata ini sudah menyediakan fasilitas umum. Beberapa di antaranya adalah tempat untuk beribadah dan juga kamar mandi. Selain itu, di sekitar area wisata, banyak warung dengan beragam makanan dan minuman, jadi anda tidak perlu khawatir.

08
August

VOI PESONA INDONESIA Air Terjun Jumog kerap disebut sebagai surga yang tersembunyi di Karanganyar. Dikatakan demikian karena letaknya yang berada di balik bukit yang tertutup belukar. Destinasi wisata ini awalnya tidak banyak dikunjungi oleh wisatawan. Namun atas kesadaran warga setempat, jalur menuju lokasi ini dipermudah. Karena itu, kini Air Terjun Jumog menjadi salah satu wisata andalan yang menambah pendapatan penduduk.

di kawasan Air Terjun Jumog, terhampar pemandangan hijau dan pepohonan tinggi yang merupakan perpaduan sempurna. Ditambah suara gemericik air yang menenangkan hati kala menuruni 116 anak tangga hingga sampai ke air terjun. Setelah menuruni tangga, sekitar beberapa meter dari air terjun, ada jembatan kecil. Tempat ini adalah spot yang paling pas untuk menikmati panorama sekitar yang mempunyai ketinggian 30 meter dengan debit air yang cukup deras. Derasnya air terjun menjadikan angin yang berhembus di dekat air terjun terasa kencang.

, Air Terjun Jumog terletak di Dusun Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat ini, arahkan kendaraan anda menuju arah Grojogan Sewu. Setelah sampai terminal Karangpandan, ambil jalur menuju Ngargoyoso. Kemudian anda dapat mengikuti petunjuk arah yang akan membantu anda sampai di Air Terjun Jumog. Fasilitas di Air Terjun Jumog terbilang cukup lengkap. Sudah tersedia arena permainan anak, kolam renang, gazebo, area untuk istirahat dan rumah makan. Di sekitar kawasan destinasi wisata ini juga ada beberapa rumah warga yang biasa dijadikan homestay. Tarif homestay cukup bervariasi, mulai dari 50 ribu sampai 250 ribu rupiah per malam.

07
August

VOI PESONA INDONESIA salah satu pantai indah yang ada di Indonesia adalah pantai yang terletak di Sumba Barat Daya , Nusatenggara Timur (NTT) yaitu Pantai Bwanna. Karena keindahannya yang luar biasa, wisatawan mancanegara menyebutnya dengan “Hidden Paradise (Surga yang tersembunyi)”. Indah dan menakjubkan, itulah kalimat yang pantas diungkapkan untuk melukiskan indahnya panorama alam di Pantai Bwanna ini.    

Pantai Bwanna yang sering disebut penduduk setempat dengan Pantai Banna, juga terkenal karena keunikannya. Di sini terdapat tebing tinggi yang tengahnya mempunyai sebuah lubang besar, sehingga akan tampak seperti pintu gerbang yang sangat besar dan indah. Melihat pemandangan ini, anda bagaikan sedang memasuki gerbang nirwana. Lubang ini bukan buatan manusia tetapi terjadi secara alami, karena proses pengikisan tebing oleh ombak.                   

Pantai ini sangat cocok bagi pencinta surfing dan penggemar panjat tebing. Deburan ombak di Pantai Bwanna ini cukup besar, sehingga cocok untuk para peselancar. Selain itu pantainya sangat bersih, berpasir halus dan berwarna putih. Bagi wisatawan yang mempunyai hobi berfoto, pantai Bwanna yang mempunyai air jernih dan berwarna biru laut ini merupakan tempat yang cocok, karena pantai ini mempunyai banyak tempat yang indah yang bisa diabadikan. Bagi anda yang tidak hobi surfing, anda bisa berenang, ataupun hanya berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati keindahan dan keunikan Pantai Bwanna ini                 

akses untuk menuju Pantai Bwanna yang terletak di Kecamatan Kodi Balagar, Sumba Barat Daya tidaklah terlalu sulit. Dari Tambaloka, ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya, membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Untuk dapat menikmati keindahan pantai Bwanna ini, anda masih harus melalui jalan menurun yang cukup menantang. Jika menggunakan kendaraan roda dua, jarak yang akan ditempuh hanya 500 meter. Tetapi jika berjalan kaki, jarak yang ditempuh untuk sampai ke Pantai Bwanna sekitar 2 Km.           

Page 1 of 39