pesona indonesia

pesona indonesia (541)

08
March

Batu Angus merupakan salah satu wisata andalan Kota Ternate. Batu Angus merupakan objek wisata paling diminati wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Wisatawan yang berkunjung ke Ternate, pasti akan mengunjungi Batu Angus. Objek wisata Batu Angus letaknya sekitar 10 kilometer dari Kota Ternate. Objek wisata ini bisa dijangkau menggunakan angkutan kota dengan tarif sekitar Rp3.000 atau menggunakan taksi. Tiba di lokasi, anda masih harus berjalan sejauh 200 meter hingga tiba di Batu Angus. 

Batu Angus merupakan hamparan batu yang tampak seperti hangus terbakar. Hamparan batu itu membentang dari kaki Gunung Gamalama hingga ke pantai. Bebatuan ini merupakan sisa lahar letusan Gunung Gamalama pada abad ke-17. Lahar yang telah berubah menjadi batu itu tampak seperti batu yang hangus terbakar. Karenanya masyarakat setempat menamainya Batu Angus. Selain terdapat hamparan batu yang hangus terbakar, di kawasan Batu Angus juga ada situs sejarah berupa tempat tewasnya seorang tentara Jepang yang parasutnya tidak terbuka normal setelah terjun dari pesawat pada Perang Dunia II.

Pemandangan menarik berupa hamparan bebatuan hangus ini menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Batu Angus. Kebanyakan wisatawan yang datang mengabadikan pemandangan unik ini dengan berfoto. Selain berfoto, anda yang datang ke Batu Angus juga bisa menyaksikan dan menikmati  pemandangan Gunung Gamalama yang menghijau, bentangan laut dan juga pulau Halmahera yang bisa dilihat dari ketinggian di kawasan Batu Angus. Di lokasi seluas 10 hektar ini, anda pun bisa berkemah sambil menanti pemandangan matahari terbenam yang indah. Sayangnya, di lokasi wisata ini belum tersedia rumah makan. Karenanya, anda harus membawa sendiri bekal makanan anda.

01
March

VOI NEWS Air Tiga Rasa Rejenu merupakan satu diantara obyek wisata di Kabupaten Kudus yang mempunyai keunikan. Obyek wisata Air Tiga Rasa Rejenu yang terletak di Desa Japan Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dipercaya memiliki berbagai manfaat dan khasiat kesehatan. Lokasi obyek wisata Air Tiga Rasa atau yang dikenal dengan Air Tiga Rasa Rejenu itu terletak di kompleks Makam Syaikh Syadzali. Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung cukup menempuh jarak sekitar 20 km dari pusat kota Kudus atau sekitar 3 km dari makam Sunan Muria. Setelah sampai di Desa Japan, wisatawan yang mengendarai roda empat bisa parkir di lokasi yang disediakan dan meneruskan perjalanan sekitar 2 km dengan ojek.

Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat setempat, air dari Air Tiga Rasa Rejenu ini mempunyai rasa dan khasiat yang berbeda. Yang pertama ini memiliki rasa yang sedikit asam, sumber air ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sumber air yang kedua memiliki rasa seperti minuman bersoda pada umumnya. Khasiat dari sumber air yang kedua ini adalah bisa menambah rasa percaya diri dalam diri pengunjung yang meminumnya. Sedangkan sumber mata air ketiga memiliki rasa yang menyengat seolah seperti minuman keras. Air dari sumber mata air ketiga ini berkhasiat dapat memperlancar rejeki. Tetapi ketika tiga air tersebut dicampurkan akan menghasilkan air yang tawar rasanya.

Meskipun objek wisata ini berada di tengah hutan dan di puncak bukit Gunung Muria, yang belum mempunyai aliran listrik, tetapi pengunjung masih dapat menikmati berbagai fasilitas yang tersedia, misalnya, ojek bagi yang tidak mau berjalan kaki, warung makan yang buka 24 jam, kamar penginapan sederhana, musholla, dan kamar mandi.

28
February

Pendap atau babatuk merupakan salah satu makanan khas dari Provinsi Bengkulu. Pendap atau biasa disebut ikan pais ini ini selain sudah sampai ke daerah lain di Indonesia seperti Jakarta, Lampung, Palembang dan daerah lainnya di Indonesia, juga sudah mulai dikenal oleh wisatawan dari negara mancanegara. Makanan khas dari Bengkulu ini juga menjadi makanan favorit Presiden pertama Indonesia, Soekarno ketika menjalani pengasingan di Kota Bengkulu dari tahun 1938 sampai tahun 1942. Masakan Pendap juga pernah diusulkan menjadi warisan budaya tak benda oleh provinsi Bengkulu.

Pendap yang berbahan dasar ikan kembung ini diolah dengan bumbu khusus bersama dengan kelapa parut dan dimasak dalam bungkusan daun talas dan daun pisang. Bumbu khusus di sini terdiri dari   bawang putih, bawang merah, ketumbar, cabai, lengkuas, jahe. merica, kencur, garam dan penyedap. Bumbu tersebut kemudian dihaluskan dan dicampur dengan parutan kelapa muda lalu dilumurkan merata pada ikan. Kamudian ikan dibungkus dengan daun talas dan bagian luarnya dibungkus lagi dengan daun pisang. Setelah itu diikat dengan daun pandan. Ikan yang sudah dibungkus kemudian direbus selama 8 jam hingga matang.

Biasanya proses memasak ini dilakukan di atas tungku besar dan masih menggunakan kayu bakar agar rasanya tetap sama seperti peninggalan leluhur. Inilah yang membuat bumbu meresap ke dalam ikan dan daun keladi yang membungkus ikan tersebut. Pendap yang bercita rasa gurih dan pedas ini sangat cocok dimakan bersama nasi panas. Selain untuk makan bersama keluarga , pendap juga sering disajikan pada upacara adat.

Di kedai Pendap di Bengkulu, Pendap dijual dengan harga Rp. 10.000 sampai dengan Rp. 15.000. Selain menjadi hidangan wajib di Bengkulu, wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu juga bisa membawa Pendap yang dipercaya kaya akan gizi sebagai oleh-oleh, karena kuliner ini bisa tahan beberapa hari.

saat berkunjung ke Bengkulu jangan lewatkan untuk mencicipi makanan khas daerah ini.

 

22
February

Pantai Peyuyon merupakan destinasi baru di desa  Kanigoro, Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Akses jalannya baru dibuka pada tahun 2017,  sehingga belum semulus pantai besar di Gunungkidul. Tetapi tidak perlu takut kecewa saat berkunjung ke pantai ini. Karena pantai ini memiliki pemandangan alam yang indah, tenang dan suasana yang berbeda dibandingkan dengan pantai lainnya.

Di pantai Peyuyon anda akan disuguhi dengan hamparan pasir putih, berpadu dengan ombak lautan yang berwarna biru dan rimbunnya daun pandan, membuat suasana pantai semakin terlihat alami. Bagi anda yang mempunyai hobi memancing, lokasi pantai ini juga menjadi spot favorit untuk memancing. Pada bagian barat, anda akan melihat goa alami di bawah tebing yang cocok buat acara berkemah. Sensasi berkemah di pinggir pantai  Peyuyon pasti bisa menjadi sebuah pengalaman liburan yang tidak akan terlupakan. Pemandangan di pantai juga terlihat cantik dan asri dengan adanya rimbunan pohon pandan di sekitar pantai. Letak pantai yang berada di lereng bukit akan memberikan pemandangan yang indah dan cukup menyejukkan.

Letak pantai Peyuyon ini sekitar 60 Km dari kota Jogja. Untuk mencapai lokasi pantai diperlukan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Dari area parkir kendaraan masih hari berjalan lagi sekitar 500 meter untuk sampai di Pantai Peyuyon. Di sepanjang jalur treckking anda akan dimanjakan dengan suasana alam yang damai ditambah dengan kicauan burung yang menambah nyaman suasana di sini. Untuk sampai ke bibir pantai, anda masih harus melalui tangga kayu sederhana menuruni tebing setinggi kurang lebih 4 meter. Untuk masuk ke pantai Peyuyon, anda hanya harus membayar tiket masuk Rp 5000. Tetapi belum termasuk parkir.

Jika anda sedang berada di Yogjakarta dan ingin mencoba sensasi liburan dengan sedikit nuansa petualangan , datanglah ke Pantai Peyuyon.

19
February

Tari Cokek

Written by
Published in pesona indonesia

Pesona Indonesia kali ini akan memperkenalkan kepada anda Tari Cokek. Tari Cokek merupakan perpaduan antara kebudayaan Betawi dengan unsur China yang sudah ada sejak awal abad ke-20.
Kata cokek sebenarnya berasal dari bahasa Cina, yakni cukin, berarti selendang yang panjangnya kurang dari satu meter, dipakai oleh para penari wanita untuk menggaet pasangannya. Ada pula yang mengartikan 'cokek' sebagai "penyanyi merangkap penari" dan biasanya cokek dipanggil untuk memeriahkan suatu hajatan, saat kenduri, atau perayaan. Para Cokek disamping menyemarakan suasana pesta dengan nyanyian dan tarian, mereka juga membantu para tamu dalam perjamuan, seperti menuangkan minuman, menambah nasi atau lauk pauk dengan sikap luwes. Pada perkembangan selanjutnya, cokek diartikan sebagai tarian pergaulan yang diiringi oleh orkes gambang kromong dengan penari-penari wanita yang disebut wayang cokek. Para tamu diberi kesempatan untuk ikut menari bersama, berpasangan dengan para cokek.

        

Keistimewaan Tari  Cokek terlihat pada gerakan tubuh penarinya yang bergerak perlahan-lahan,  sehingga mudah untuk diikuti. Tarian diawali dari formasi memanjang, di mana  antara satu penari dengan penari lainnya saling bersebelahan. Setelah itu, kaki  para penari digerakkan melangkah maju mundur dengan diikuti rentangan tangan  setinggi bahu. Rentangan tangan itu disesuaikan dengan gerakan kaki yang  bergerak maju mundur tersebut. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan ajakan  kepada para penonton untuk ikut bergabung menari. Ajakan kepada para penonton itu  dilakukan dengan cara mengalungkan selendang ke leher. Penari  menariknya maju ke  depan. Proses menari bersama ini dilakukan  berdekatan antara penari dengan penonton, namun tidak saling bersentuhan.

Pada awal kemunculannya, Tari Cokek dimainkan oleh tiga penari perempuan. Sekarang, pertunjukan Tari Cokek seringkali dimainkan oleh lima hingga banyak orang penari perempuan dan beberapa orang laki laki sebagai pemain musik yang sebagian ikut mengiringi tarian wanita. Busana yang dipakai penari tari Cokek berupa baju kurung dan celana dari bahan semacam sutra dengan warna yang mencolok. Pada ujung bawah celana biasanya diberi hiasan dengan kain yang serasi. Selembar selendang panjang terikat di pinggang dengan kedua ujungnya terjurai ke bawah. Rambut penari tersisir rapi ke belakang. Ada juga yang dikepang kemudian disanggulkan dengan bentuk tidak terlalu besar, lalu dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang. Kemudian diberi hiasan benang wol yang dikepang atau dirajut. Menurut istilah setempat disebut "burung hong", semacam burung pheonix yang dipercaya sebagai burung pembawa keberuntungan.




18
February

Nasi Gemuk

Written by
Published in pesona indonesia

Pesona Indonesia kali ini akan memperkenalkan kepada anda Nasi Gemuk.  5 Februari lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno melakukan wisata kuliner saat berkunjung ke Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Layang, Kepulauan Bangka Belitung. Disana, Sandiaga Uno menyantap nasi gemuk bersama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman; Bupati Belitung, Sahani Saleh; dan Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie. Sandiaga Uno mengatakan hidangan lokal nasi gemuk merupakan wisata kuliner yang lezat dan mampu menarik wisatawan saat berkunjung ke Kepulauan Bangka Belitung.

Nasi Gemuk merupakan kuliner khas masyarakat Bangka Belitung, Jambi dan Sumatera Selatan.  Asal usul nama nasi sendiri tidak diketahui secara pasti. Namun banyak yang menyebut alasannya karena nasi berminyak dan menggunakan santan dalam jumlah besar. Nasi ini sudah popular sejak 1970an. Nasi Gemuk adalah nasi yang dimasak dengan santan kelapa dan daun pandan. Ketika disantap, rasa gurih begitu terasa. Penggunaan santan itulah yang menjadi kunci rasa gurih nasi gemuk. Selain santan, ada tambahan berbagai bumbu lain pada pembuatan nasi seperti daun salam, daun pandan, serai dan daun jeruk. Agar rasanya makin nikmat, nasi gemuk juga diberi bumbu halus. Antara lain campuran bawang merah, bawang putih, lada, ketumbar dan jintan.

Nasi Gemuk biasanya dinikmati sebagai menu sarapan pagi. Saat disantap, nasi gemuk dinikmati dengan lauk pelengkap yang jadi ciri khasnya. Diantaranya irisan telur dadar, telur rebus, mentimun, bawang goreng, sambal dan kerupuk. Kari ayam atau sapi, kacang tanah dan ikan teri goreng juga sering ditambahkan dalam nasi gemuk. Harganya pun relatif terjangkau. Nasi Gemuk dijual seharga Rp. 8.000 hingga Rp. 10.000 per porsi.

17
February

Wisata Bogor tidak selalu daerah Puncak Cisarua. Namun, ada juga alternative lain seperti wisata persawahan yang cantic. Salah satunya adalah Kampung Tematik Mulyaharja di Bogor propinsi Jawa Barat. Menikmati akhir pekan bersama pasangan atau keluarga, cocok dilakukan di Agro Edukasi Wisata Organik (AEWO) Mulyaharja atau dikenal juga sebagai Kampung Tematik Mulyaharja. Di sana, Anda akan disambut hamparan sawah yang menyegarkan mata.
Wisata persawahan Mulyaharja sangat unik dibandingkan wisata sejenis seperti di Tegalalang, Ubud Bali atau Suargabumi di Magelang karena  sawah ini berada di kawasan pertanian organik dan dikelola langsung oleh masyarakat lokal. Menurut Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Mulyaharja , Oji atau akrab disapa Kang Ojos, area persawahan ini sudah dikembangkan Kelompok Tani Dewasa sejak 1987. Lalu pada 2013, sawah ditanami padi organik dan pada 2017 dikembangkan menjadi lokasi wisata edukasi pertanian. Selama 3 tahun, AEWO Mulyaharja dikembangkan menjadi kawasan wisata pertanian organik terpadu. Hingga pada akhir 2020, Kompepar Mulyaharja diberikan dana hibah sebesar Rp 2,8 miliar dari Pemerintah Kota Bogor untuk semakin memantapkan wisata di sana. Sejumlah fasilitas sudah berdiri di sana. Mulai dari spot foto instagramable, saung untuk bersantai, kafe dan kios UMKM, serta sarana edukasi seperti kandang domba, pembuatan biogas dari kotoran sapi, sampai kolam lele.


Kompepar Mulyaharja memiliki target terciptanya segitiga emas Mulyaharja yang menggabungkan wisata edukasi, kuliner, dan lokasi nongkrong kekinian. Saat ini, untuk menikmati wisata di AEWO Mulyaharja, Anda cukup membayar Rp 10 ribu. Anda bisa datang mulai pukul 07.00 pagi sampai dengan pukul 17.30 WIB. Banyak kegiatan seru yang bisa kamu lakukan di Kampung Tematik Mulyaharja. AEWO Mulyaharja terdiri atas 23 hektar sawah padi organik. Namun hingga saat ini, masih 5 hektare yang sudah dilengkapi dengan fasilitas wisata. Bagi Anda yang hobi berfoto tidak perlu khawatir karena kampung tematik Mulyaharja juga menyediakan beberapa spot foto yang Instagramable. Edukasi pertanian organik merupakan keunggulan Kampung Tematik Mulyaharja dibandingkan desa lainnya. Bagi Anda yang ingin mencoba paket kegiatan ini dapat melakukan reservasi terlebih dahulu. Harganya adalah Rp 2,5 juta untuk 30 orang. Ini sudah termasuk dengan fasilitas tanam, instruktur, dan kudapan. Satu lagi kegiatan asyik yang bisa Anda nikmati adalah tinggal bersama warga yang berprofesi sebagai petani. Kegiatan ini cocok buat Anda yang rindu suasana kampung halaman. Di AEWO Mulyaharja tersedia 20 rumah yang akan dengan senang hati menyambut Anda. Untuk paket menginap selama 3 hari 2 malam, Anda dapat merasakan bercengkrama bersama warga dan mendapatkan makan 3 kali sehari. Biasanya tiap rumah mampu menampung 5 wisatawan. Jika Anda ingin merasakan sensasi tinggal bersama warga ini dikenakan biaya mulai Rp 300 ribu per orang.




Selain belajar bertani organik dengan menanam padi, menginap di rumah penduduk, ada juga paket
trekking menjelajah kampong Wisata sambal belajar mengenal alam lebih jauh dengan paket Rp 100.000-Rp 135.000 per orang dengan minimal lima orang. Selama trekking, wisatawan akan ditemani pemandu dari warga lokal. Setelah lelah berwisata di lokasi sudah ada tempat khusus bersantap dengan menu paket yang bervariasi bisa dipesan untuk perorangan maupun per rombongan. Menu yang ditawarkan adalah sajian kuliner khas Jawa Barat, nasi liwet, ayam goreng, ikan asin, pepes, Karedok, semur jengkol, oncom dan minuman Bajigur. Di samping itu ada juga minuman kekinian berupa kopi, teh, dan cokelat di Kafe Saungkopi.

Untuk mencapai lokasi wisata ini, jarak yang ditempuh adalah kurang lebih 70 Km ke arah Selatan kota Jakarta. Melalui jalan bebas hambatan Tol Jagorawi akan semakin mempercepat sampai ke tujuan wisata Mulyaharja. Dari pusat kota Bogor ke Kampung Tematik Mulyaharja yang berlokasi di RT 05/RW 01, Mulyaharja, Bogor Selatan, Kota Bogor dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan jarak sekitar 10.3 Km dengan menggunakan mobil pribadi. Liburan bersama keluarga tentu akan lebih seru di kampong wisata Tematik Mulyaharja Bogor dan Jangan lupa tetap menerapkan protokol kesehatan ya.


09
February

Edisi pesona Indonesia kali ini, akan memperkenalkan kepada anda “Getuk Goreng”. Makanan khas Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah ini akan diikutkan dalam ajang festival kuliner di Slovenia pada pertengahan 2021. Menurut Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah, getuk goreng dipilih untuk mengikuti festival karena ada inovasi baru yang dikembangkan oleh salah satu pelaku usaha di Kudus dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Mulai dari bahan baku utamanya, yakni ketela pohon atau ubi hingga pemanfaatan toppingnya yang menggunakan bahan baku lokal, seperti buah alpukat.

Getuk goreng berbahan dasar singkong dan gula merah. Getuk goreng ditemukan pada tahun 1918 secara tidak sengaja oleh bapak Sanpirngad seorang penjual nasi rames keliling di daerah Sokaraja di mana getuk basah adalah salah satu dagangannya. Pada saat itu getuknya tidak laku sehingga ia menggoreng kembali getuknya, agar bisa dikonsumsi kembali dan dijual. Ternyata getuk goreng ini digemari oleh para pembeli dan hingga kini banyak dijual di berbagai daerah.

Getuk Goreng bercita rasa manis, gurih dan mengenyangkan, Getuk Goreng  cocok sebagai camilan sekaligus pendamping minuman panas, seperti kopi, teh, jahe, dan susu. Sebelumnya, getuk goreng yang dijual ada tiga varianyaitu original, gula merah dan gula putih, namun seiring perkembangan zaman, varian getuk goreng pun bertambah. Ada rasa urap kelapa muda serta rasa cokelat. Ada pula varian rasa yang berhasil dikembangkan baru-baru ini, yakni getuk goreng saus alpukat dengan aneka topping serta getuk goreng krispi. Harga getuk goreng pun relatif murah dan bergantung jenis varian rasanya. Harga getuk original seharga Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000 per satu besek kecil yang berisi getuk goreng kurang lebih 4 ons.

10
February

Pati Gigi Hiu

Written by
Published in pesona indonesia





Lampung memiliki berbagai atraksi alam yang sangat mengagumkan, dari mulai gajah-gajah Lampung hingga serombongan lumba-lumba cantik yang seringkali muncul dan menampakan diri di Teluk Kiluan. Meskipun demikian selain dua atraksi wajib yang harus anda kunjungi jika sedang berada di Lampung, anda juga semestinya mencoba berkunjung ke sebuah lokasi pantai yang menawan dan eksotis. Bernama Pantai Pegadungan atau seringkali disebut sebagai Pantai Gigi Hiu. Pantai ini cukup berbeda dengan pantai lainnya yang banyak tersebar di Indonesia. Keeksotisan yang terletak dari banyaknya gugusan batu-batu karang yang tersusun menjulang tinggi bak tebing membuat pemandangan pantai ini cukup unik.


Gugusan-gugusan batu tersebut memiliki tinggi dan juga besar yang cukup bervariasi antara 1 meter hingga 10 meter untuk ketinggiannya. Susunan batu tersebut seolah membentuk gigi ini juga terlihat seperti layar perahu yang sedang tertiup angin. Ketika berkunjung ke pantai ini pemandangan terbaik yang bisa anda lihat yaitu ketika matahari terbit. Di waktu tersebut anda akan melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Pancaran lembayung disela-sela batu karang, dengan ditambah deburan ombak memantulkan cahaya dari matahari. Untuk berkunjung ke pantai ini disarankan saat bukan musim penghujan. Berkunjung saat musim panas, anda akan melihat pemandangan yang bersih dan jelas. Maka dari itu anda yang gemar fotografi sebaiknya datang saat waktu yang tepat. Ketika musim penghujan, biasanya Pantai Gigi Hiu akan diselimuti oleh kabut. Pemandangan indah di Pantai Gigi Hiu akan terhalang oleh kabut-kabut tersebut.


Anda mungkin tidak akan menemukan hotel-hotel mewah berkelas, namun anda bisa mencoba mencari penginapan di rumah-rumah warga sekitar, atau anda bisa kembali menuju ke Teluk Kilauan yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi tersebut untuk mendapatkan penginapan. Berlokasi di Kecamatan Klumbayan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, lokasi Gigi Hiu sendiri adalah sebuah daerah yang cukup jauh dari lingkungan penduduk dan juga keramaian. Lokasinya cukup terpencil dan akses perjalanan cukup sulit, sehingga tempat ini cocok bagi anda yang benar-benar memiliki jiwa traveling sejati. Saat mengunjungi pantai ini disarankan bersama rombongan karena pantai ini masih terbilang sepi. Jadi alangkah baiknya jika Anda membawa perlengkapan yang dibutuhkan dan tetap melaksanakan protokol kesehatan selama perjalanan atau ketika sampai di tempat.


08
February

Gili Labak adalah sebuah pulau kecil seluas sekitar 5 hektar. Dikelilingi oleh hamparan pasir putih dan air laut bewarna biru kehijauan. Pulau kecil l yang indah ini berada di sebelah tenggara Pulau Madura atau sekitar 5 mil laut dari Gili Genting. Secara administratif pulau ini masuk wilayah Desa Kombang, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kecantikan pulau kecil ini tidak diragukan lagi. Pulau Gili Labak ini mempunyai pasir putih seperti yang terdapat di Pulau Lombok. Pulau Gili Labak juga memberikan kecantikan alam bawah laut yang cantik. Di beberapa titik tertentu pulau ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Karang laut yang menawan, ikan-ikan cantik yang berenang di sekitarnya menambah indahnya sisi bawah laut pulau ini. Banyak kegiatan yang dapat anda lakukan di pulau ini, seperti snorkeling, diving, susur pantai dengan menyewa perahu lokal selama 30 menit, hingga menikmati indahnya matahari terbit atau terbenam. Di Gili Labak, anda juga dapat berkemah, namun jika  anda tidak terbiasa dengan kegiatan ini, anda dapat menginap di rumah warga yang menyewakan rumahnya untuk pengunjung.

Untuk menuju ke pulau Gili Labak, anda dapat menempuh dengan cara menggunakan bus dari Terminal Bungurasih, Surabaya menuju Sumenep dengan jadwal keberangkatan tiap jam. Perjalanan dari Surabaya ke Sumenep ini membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Kemudian menyewa kapal pulang pergi Kalianget-Gili Labak. Waktu yang dibutuhkan menyeberang ke Pulau Gili Labak ini kurang lebih 2 jam. Tergantung keadaan cuaca dan angin yang kerap mengganggu perjalanan menuju ke Pulau ini. Fasilitas yang tersedia di pulau ini juga masih minim, Namun ada beberapa fasilitas seperti kamar mandi umum dan tempat untuk berbilas atau berganti pakaian, lokasi untuk berkemah jika anda berencana untuk menghabiskan malam di sana, tempat untuk menyewakan peralatan selam dan juga beberapa warung yang menjual makanan dan minuman walaupun tidak banyak. Jam buka dari Gili Labak sendiri adalah 24 jam setiap hari, jadi anda bisa datang kapan saja, namun anda harus memperhatikan jadwal perahu-perahu atau kapal yang bisa mengantarkan anda ke Gili Labak. Di obyek wisata ini, pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk.

Page 6 of 39